WIRO SABLENG
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Karya: Bastian Tito
KEDAI MINUMAN
itu penuh dengan para pengunjung yang ingin menikmati bandrek, pisang
rebus dan kacang goreng. Sehabis hujan memang sedap sekali duduk
menikmati bandrek hangat sambil mengobrol dan menghisap rokok, (bandrek"
minuman manis bercampur jahe, biasanya diminum hangat-hangat).
Tetamu
yang ada dalam kedai itu rata-rata bertampang sangar dan kebanyakan
membekal golok. Pertanda bahwa mereka adalah orang-orang kasar.
Seorang
pemuda muncul di pintu kedai. Pakaiannya basah kuyup. Dia memakai ikat
kepala putih dan rambutnya yang gondrong basah acak-acakan.
"Saya mencari Memed Gendut. Apakah orangnya ada di sini?" pemuda itu bertanya.
Orang-orang
yang ada di dalam kedai itu berpaling ke pintu. Sesaat mereka memandang
si pemuda lalu meneruskan obrolan mereka, menghisap rokok atau meneguk
bandrek. Tak ada yang menjawab.Semua seperti tak acuh. Seolah-olah
pemuda itu tak ada disana.
Orang yang bertanya garuk-garuk kepalanya.
Terdengar suaranya perlahan, tetapi cukup je!as terdengar oleh semua
pengunjung kedai ketika dia berkata,"Aku yakin tidak semua orang yang
ada di sini bisu. Tapi mengapa tak ada yang menjawab?"
Seorang
berdestar hitam berpipi cekung membuka mulut dari belakang meja di mana
dia sibuk melayani tetamu. Dia adalah pemilik kedai.
"Orang yang kau cari tak ada di sini "
"Saya
mendapat keterangan orang itu selalu nongkrong di kedai ini setiap
malam," berkata si pemuda. Dia masih saja tegak di pintu, tampaknya
segan masuk ke dalam kedai yang sudah sesak oleh tamu itu,"Memang benar,
tapi malam ini dia belum muncul. Mungkin sebentar lagi,"
kata orang kedai lalu menyarankan: "Tunggu saja di sini sambil minum-minum…."
Pemuda itu memandang berkeliling dan menjawab: "Biar saya menunggu di luar saja …."
"Terserah padamu. Tak ada yang melarang dimanapun kau mau menunggu."
Pemuda tadi balikkan tubuh dan pergi tegak di bawah cucuran atap kedai.
Udara
malam sehabis hujan sangat dingin. Tapi pemuda ini seperti tidak
merasakan. Dia tetap tegak di tempatnya mematung dan menunggu sampai
akhirnya dari dalam kedai keluar dua orang tamu. Yang satu tinggi kekar
berkumis melintang. Satunya lagi agak pendek berkereta gundul, juga
bermisai lebat. Masing-masing membawa golok di pinggang.
"Anak muda
rambut gondrong. Kau orang asing di sini. Ada apa mencari Memed Gendut?"
salah seorang yang barusan keluar dari kedai ajukan pertanyaan.
"Keperluan kecil: Biasa-biasa saja" jawab sipemuda.
"Hemm… Apa yang kecil dan apa yang biasa-biasa?" bertanya lelaki botak.
Matanya liar memandangi si pemuda dari atas sampai ke bawah.
"Saya hanya ingin bicara dengan Memed Gendut. Tidak dengan lain orang."
"Jangan
begitu. Kami berdua adalah kawan-kawan orang yang kau cari. Jika kau
ada keperluan kami bisa membantu." Kata si tinggi kekar.
Pemuda itu berpikir sejenak. Akhirnya menjawab.
"Terima
kasih. Biar saya menunggu Memed Gendut saja"Sikapmu tidak mempercayai
kami berdua huh?!" kata si pendek botak dan.dia melangkah mundar-mandir
di depan pemuda itu. Tangan kanannya bersitekan pada hulu golok.
Si pemuda garuk-garuk kepalanya. "Apa gunanya saya tidak percaya pada kalian. Tapi apa untungnya kalau mempercayai kalian!"
Si tinggi besar ulurkan tangannya dan tepuk-tepuk bahu pemuda itu.
"Jangan bicara seperti itu anak muda. Orang hendak menolongmu kenapa bicara tidak enak begitu …?"
"Eh.
aku tadi bilaa terima kasih. Dan tak mau ditolong karena ingin menunggu
Memed Gendut. Tapi kalian seperti memaksa!’,’ Pemuda berambut gondrong
yang bertampang seperti tolol itu kini keluarkan suara keras dan kasar
karena jengkel.
Si tinggi besar menyeringai dan kedipkan mata pada kawannya yang berkepala botak, lalu berkata pada pemuda di hadapannya.
"Memed
Gendut terkenal sebagai pedagang kuda di daerah ini. Jika ada orang
asing mencarinya, pasti urusan jual beli kuda. Bukan begitu?"
Si pemuda tak menjawab.
Si
botak kini ikut memegang bahu pemuda itu seraya berkata: "Jika kau
memang ingin membeli kuda, serahkan saja uangmu pada kami. Tunggu di
sini.
Dalam waktu singkat kami akan kembali membawakan seekor kuda paling bagus untukmu…. Nah serahkanlah"
"Serahkan apa?!"
"Uang pembeli kuda!"
"Apa kalian juga pedagang kuda?"
Si tinggi menjawab: "Tadi sudah kami katakan. Kami ingin menolongmu.
Ternyata
betul kau ingin membeli kuda! Memed Gendut memang pedagang kuda
terkenal. Tapi harga kudanya mahal.Kuda milik kami tak kalah bagus,
malah jauh lebih murah. Tun jukkan berapa uang yang kau punya?"
"Sudahlah. Biarkan aku sendirian di sini. Lebih baik kalian masuk lagi ke dalam meneruskan minum.."
"Hemm " si tinggi besar usap-usap dagunya. "Kalau begitu kau harus bayar uang wara-wiri pada kami!"
"Eh, bayar apa? Apa itu uang wara-wiri?" tanya si pemuda heran.
"Sebagai ganti rugi karena kedatanganmu mengganggu makan-minum kami!"
jawab si pendek botak seraya puntir kumis tebalnya.
Pemuda gondrong melongo la!u tertawa gelak-gelak.
"Sialan! Kenapa tertawa!" bentak si tinggi"Kalian ini berdua mengemis atau hendak memeras?!" tukas pemuda itu.
‘Terserah kau mau menyebut apa! Bagusnya lekas kau serahkan semua uang yang kau miliki!" bentak si botak.
"Nah, nah! Tadi hanya minta uang wara-wiri! Kini inginkan semua uangku!
Benar-benar wong edan!"
Sret!
Sretl
Dua
bilah golok telanjang tahu-tahu sudah melintang di batang leher pemuda
itu. Orang lain mungkin sudah pingsan atau terkancing ketakutan
dikalungi dua buah golok seperti itu. Tapi anehnya si pemuda malah
menyeringai dan
keluarkan siulan.
"Kalau begini namanya bukan pengemis atau pemerasan, tapi perampokan!" katanya
"Tepat
sekali! Ini memang perampokan! Lekas serahkan semua uangmu I" Si botak
ulurkan tangan kirinya untuk menggeledah pinggang dan saku pakaian si
pemuda. Tapi tiba-tiba pemuda itu hantamkan sikunya ke lambung si botak
hingga orang ini terjungkal. Di saat yang bersamaan kawannya si tinggi
merasakan satu tendangan menghantam tempurung lututnya hingga hancur dan
terjengkang jatuh sambil berteriak kesakitan.
Plak!
Plak!
Satu
tamparan amat keras melayang ke muka kedua orang itu. Bibir mereka
pecah. Keduanya tergelimpang pingsan di bawah cucuran atap.
Suara
pukulan dan tendangan serta pekik dan tamparan membuat semua tamu dalam
kedai terkejut lalu berlarian ke luar untuk melihat apa yang terjadi.
Di
luar mereka dapatkan dua kawan mereka tergelimpang pingsan di tanah
yang becek sementara pemuda asing yang tadi mencari Memed Gendut tegak
tenang tenang bersidakap lengan,, seolah-olah tak ada terjadi apa-apa di
tempat itu.
Seorang menyeruak dari kerumunan para pengunjung kedai dan bertanya:
"Ada apa di sini?! Anak muda. Kau yang mencelakai kedua orang ini?"
"Bukan
aku. Mereka minta celaka sendiri!" jawab si pemuda. Lama-lama dia
merasa muak melihat sikap orang-orang itu. "Aku mencari Memed Gendut!
Mereka hendak merampok! Wong edan!"
"Jangan menuduh sembarangan! Mereka adalah orang baik-baik!" Yang bicara adalah pemilik kedai.
"Begitu? Apa kau dapat menerangkan mengapa orang baik-baik mencabut golok dan memaksa aku menyerahkan uang?!"
"Kau mengarang cerita!" Seseorang berkata setengah berteriak.
Lalu beberapa orang membuat gerakan sama. Mencabut golok di pinggang masing-masing. Termasuk si pemilik kedai.
"Hemm….
kalau begitu kalian semua ternyata kawanan rampok!" ujar si pemuda.
"Rupanya sudah cukup lama kalian berkomplot di daerah ini tanpa pernah
mendapat hajaran! Hari ini biar tuan besarmu memberikan, sedikit
pelajaran! Majulah ramai-ramai!"
"Pemuda Sombong!"
"Minta mampus!"
Enam
orang merangsak maju dengan senjata di tangan. Si pemuda sama sekali
tidak takut. Sikapnya berdiri acuh tak acuh- Ketika dua dari enam
pengeroyok menyerbu maju, pemuda berambut gondrong keluarkan siulan
nyaring. Tubuhnya berkelebat ke atas. Tangan dan kakinya menghantam kian
ke mari. Maka terdengarlah jerit pekik di tempat itu. Tiga orang
langsung terhampar di tanah, merintih kesakitan sambil pelangi dada,
kepala atau perut.
Dua lainnya tersandar di dinding kedai. Yang satu yang paling parah menyangsang di antara semak belukar di seberang jalan!
Melihat kejadian ini, yang lain-lain melangkah mundur menjauhi si pemuda.
Rasa
kagum tertutup oleh rasa takut. Ketika pemilik kedai buang senjatanya
ke tanah dan masuk ke dalam kedai, yang lainnya pun mengikuti. Tapi ada
pula yang segera meninggalkan tempat itu dan lenyap dalam kegelapan
malam.
Si pemuda tiba-tiba merasakan punggungnya di tepuk orang.
Cepat dia berpaling dan dapatkan seorang lelaki kecil sangat kurus tegak
di hadapannya.
Orang ini memberi isyarat seraya berkata: "Lekas ikuti aku!"
"Kau siapa?" tanya si pemuda curiga.
Orang
itu tak menjawab, malah langsung berlari pergi. Meskipun merasa tidak
enak tapi akhirnya pemuda itu mengejar juga orang tadi.
Jauh di pinggiran desa, dekat pesawahan orang itu perlambat larinya lalu berhenti dan menunggu si pemuda.
”Katakan apa maksudmu menyuruh aku mengikuti?!" tanya si pemuda.
"Bukankah kau mencari Memed Gendut? Akulah orangnya!"
"Kurang ajar! Jangan berani bergurau "
"Aku tidak bergurau! Memang akulah Memed Gendut. Pedagang kuda yang kau cari!"
"Menurutku yang namanya Memed Gendut itu pasti manusianya gemuk besar. Tidak kurus kering cacingan sepertimu ini!"
Orang itu tertawa. "Kau hanya mengenal namaku. Belum pernah bertemu.
Bukan
kau seorang yang menduga salah. Orang-orang memberi nama itu padaku
justru sebagai kebalikan dari keadaan tubuhku yang seperti jerangkong
ini!"
‘Begitu? Tapi aku masih belum percaya padamu. Bukankah tadi
kulihat kau ada di dalam kedai ketika aku pertama kaii datang dan
bertanya?"
"Betul..”
"Lalu kenapa kau tidak menjawab?"
“Aku tidak berani."
"Mengapa tidak berani?"
"Kedai
dan daerah sini dikuasai oleh gerombolan rampok dan pemeras pimpinan
Kumbang Plered. Orangnya, itu yang tinggi besar dan berkumis yang
mula-mula mendatangimu bersama si botak. Pemilik kedai adalah salah
seorang anak buahnya. Oan aku sejak lama jadi bulan-bulanan pemerasan
mereka. Jika ada yang hendak membeli kuda, mereka langsung turun tangan
menetapkan harga. Padaku kemudian hanya diberikan sejumlah uang yang
sangat kecil. Aku sudah lama ingin meninggalkan daerah ini, tapi mereka
mengancam anak dan istriku!" Memed Gendut yang ternyata hanya seorang
lelaki separuh baya bertubuh kurus kering diam sesaat. Lalu .dia
bertanya:
"Kau mencariku apakah hendak membeli kuda ….?"
Pemuda rambut gondrong mengangguk. "Tapi aku kawatir uangku tak cukup.
Apakah bisa kalau menyewa saja?"
Memed
Gendut tertawa. "Sewa menyewa tak pernah kulakukan. Itu urusan bikin
repot saja. Melihat kau telah melakukan sesuatu yang hebat malam ini,
aku bertanya, berapa uang yang kau miliki?"
Pemuda itu mengeluarkan
sebuah kantong kecil dan menyerahkannya pada si pedagang kuda. Memed
Gendut memeriksa lalu memasukkan kantong itu ke dalam saku pakaiannya.
"Uangmu tak cukup untuk membeli sepotong kudapun. Tapi tak apa. Kau orang asing. Dari sini kemana tujuanmu?" tanya Memed Gendut.
"Lumajang."
"Lumajang?
Berarti kau akan melewati lautan pasir Tengger. Dengan berkuda terus
menerus paling tidak kau membutuhkan waktu satu hari satu malam. Dan tak
mungkin kau hanya memiliki seekor kuda. Paling tidak harus ada seekor
kuda cadangan. Kalau hanya membawa seekor kuda, dan terjadi apa-apa
dengan binatang itu, kau akan menemui ajal dilautan pasir. Lebih baik
kau mengambil jalan lain. Tapi itu berarti lebih dari sepuluh hari baru
sampai di Lumajang."
"Itulah yang tak aku ingini. Aku harus
cepat-cepat sampai di sana." Si pemuda tampak bingung dan garuk-garuk
kepalanya berulang kali. "Uangku katamu tidak cukup …. Bagaimana ini?"
"Sudahlah, aku akan menolongmu. Boleh aku tahu namamu?"
"Panggil aku Wiro," jawab pemuda gondrong.
"Aku
akan berikan dua ekor kuda padamu. Jika kemudian hari kau mau membayar
kekurangannya terserah saja. Tapi aku tak begitu mengharapkan …"
"Terima
kasih. Kau orang baik. Tapi dari tadi kita hanya bicara saja di pinggir
sawah di malam buta dan gelap begini. Aku belum melihat kuda-kudamu
..,."
"Rumahku di timur sawah ini. Kita berangkat sekarang saja."
Kedua
orang itu menyeberangi sawah menuju ke arah timur. Selewatnya
pesawahan, dalam kegelapan malam di kejauhan tampak sederetan rumah.
Salah satu di antaranya memiliki halaman luas yang diberi berpagar kayu tinggi.
Lebih
dari selusin kuda kelihatan di balik pagar itu. Inilah rumah Memed
Gendut. Ketika sampai di ujung pagar, pedagang kuda ini hentikan
langkah. Dia memandang ke arah rumah. Dalam kegelapan tampak sosok-sosok
tubuh mendekam di sekitar bangunan.
"Hatiku tak enak. Ada bebecapa orang di sekitar rumah. Aku curiga. Janganjangan .. .." kata Memed Gendut.
"Aku juga sudah melihat dari tadi," kata Wiro.
"Tenang saja. Jika orang-orang itu bermaksud jahat akan kugebuk seperti tadi aku menggebuk Kumbang Plered dan anak buahnya."
"Yang aku kawatirkan anak istriku di dalam rumah” ujar Memed Gendut.
Kedua orang itu memasuki pintu halaman.
"Berhenti di sana!" satu bentakan menggema keras di dalam kegelapan malam yang dingin.
"Astaga! Itu suara Kumbang Plered!" bisik Memed Gendut. "Bagaimana dia tahu-tahu sudah berada di sini?!"
DELAPAN ORANG bergerak
dari arah bangunan rumah. Semua menghunus senjata di tangan. Golok dan
kelewang. Di sebelah depan memimpin seorang bertubuh tinggi besar.
Ternyata dia memang Kumbang Plered, kepala gerombolan rampok dan
pemeras.
"Memed Gendut!" teriak suara Kumbang Plered. Salah satu
kakinya yang luka parah tampak di ikat dan diganjal dengan beberapa
potong kayu. "Tidak disangka kau telah berkomplot dengan seorang pemuda
asing dan berani melawan kami!"
"Aku tidak berkomplot dengan siapa-siapa Kumbang!" kata Memed Gendut.
"Masih
berani kau berdusta! Apa yang terjadi di kedai tadi cukup membuktikan
tuduhanku! Dan sekarang terbukti lagi kau muncul di sini bersama kawanmu
itu! Bagus! Bagus sekali perbuatanmu Memed. Dan kau harus bayar dengan
mahal semua itu!"
"Selama ini aku selalu mengikuti kehendakmu Kumbang. Sekarang kulihat kau tidak beritikad baik terhadapku . ..?"
"Bukan hanya padamu Memed! Tapi juga terhadap kawanmu! Dengar baikbaik.
Di dalam rumah dua orang anak buahku siap menggorok leher istri dan tiga anakmu!"
"Ya Tuhan!" pekik Memed Gendut. "Jangan kau celakai anak istriku!"
"Jika kau ingin mereka selamat ikuti kata dan perintahku!" kata Kumbang Plered.
"Apa
yang kau inginkan Kumbang….?’ suara Memed Gendut bergetar sementara
Wiro tegak tak bergerak memperhatikan keadaan di sekitarnya.
"Pertama
kawanmu itu harus menyerahkan seluruh uang yang dimilikinya"Ini
ambillah!" ujar Memed Gendut seraya melemparkan kantong uang yang tadi
diterimanya dari Wiro.
Kumbang Plered cepat menangkap kantong uang itu. "Kedua, semua kuda yang ada di tempat ini mulai detik ini menjadi milikku . .."
"Mati aku! Kumbang! Kau tahu mata pencaharianku adalah berjual beli kuda.
Keuntungannya
tidak seberapa. Kalau kau merampas semua kudaku bagaimana aku
menghidupi anak istriku … .!" teriak Memed Gendut dengan suara setengah
meratap.
"Kalau begitu kau tak ingin anak istrimu selamat! Apakah perlu kuperintahkan agar mereka segera digorok saat ini?!"
"Jangan …! Jangan lakukan itu Kumbang! Kau boleh ambil semua kuda itu.
Lalu pergi dari sini!" Kumbang Plered menyeringai.
"Bagus!
Rupanya kau betul-betul mencintai anak istrimu. Hal ketiga!Kawanmu itu
akan kami tangkap hidup-hidup. Jika dia berani melawan, anak istrimu
tetap akan jadi korban!"
Memed Gendut berpaling pada Wiro. Si pemuda tampak berubah parasnya.
Dia tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini.
"Ada apa kau ingin menangkapku?!" tanya Wiro.
"Pertama
karena apa yang telah kau lakukan terhadap kami di kedai bandrek tadi!
Kedua kami mengetahui kau mengandung maksud buruk pergi ke Lumajang.
Jadi kau pantas ditangkap dan diserahkan pada Adipati Kebo Penggiring!"
"Keparat
setan alas!" Wiro memaki dalam hati. "Apakah bergundal sial ini
benar-benar mengetahui tujuanku ke Lumajang?!" Kepada Kumbang Plered
Wiro tak ingin menunjukkan keterkejutannya. Malah dia berkata mengejek:
"Rupanya pelajaran yang kuberikan di kedai minuman itu masih belum
cukup. Kau ingin kakimu satu lagi diikat dan diganjal kayu?!"
Kumbang Plered meludah ke tanah. Saat itu bibirnya masih mengeluarkan darah akibat tamparan keras Wiro.
"Pemuda
gembel buruk! Jangan berlagak jagoan di hadapanku.Kau kenal dua temanku
ini.. ..?" Kumbang Plered menunjuk pada dua lelaki berpakaian merah di
sampingnya.
Wiro ingat betul. Dua orang ini tidak ada dalam kedai
bandrek ketika dia datang ke sana. Rupanya Kumbang Plered sengaja datang
ke situ membawa mereka untuk dimintakan bantuan. Berarti keduanya
memiliki kepandaian yang
diandalkan.
"Siapa dua ekor kunyuk itu mana perduliku!" menyahuti Wiro.
Kumbang
Plered tertawa mengekeh. Sedang dua orang berpakaian merah tampak
berubah garang tampang mereka karena dicaci sebagai kunyuk oleh Wiro.
"Kawan-kawan,
kalian dengar sendiri. Mulutnya terlalu lancang. Menurut hematku kalau
tak dapat ditangkap hidup-hidup mayatnya pun cukup berharga.
Bagaimana pendapat kalian?!"
Salah
satu dari dua orang berpakaian merah itu menjawab: "Kami lebih suka
mematahkan batang lehernya!" Lalu dia memberi isyarat pada kawan di
sebelahnya. Lima orang anak buah Kumbang Plered segera menyebar,
mengurung. Memed Gendut menjauhkan diri ke sudut halaman. Dua lelaki
berpakaian merah tampaknya hanya mengandalkan sepasang tangan kosong,
bergerak mendekati Wiro. Siapakah kedua orang berpakaian serba merah
ini?
Yang berjanggut macam kambing bernama Kuto Simpul. Kawannya yang
bermata jereng bernama Reso Bondo. Sekitar setahun lalu kedua orang ini
ikut menjadi pimpinan dari satu kelompok rampok hutan Roban yang ganas.
Keduanya
kemudian memisahkan diri lalu meneruskan kehidupan sesat dengan
berkeliaran sebagai manusia-manusia bayaran. Kalau dulu mereka malang
melintang dalam rimba belantara maka kini keduanya berkeliaran di
Kadipaten-Kadipaten bahkan tak jarang muncul di Kotaraja. Mereka akan
melakukan apa saja — mulai dari membunuh dengan meracun sampai menjagal
batang leher korban — asalkan mendapat bayaran. Karenanya tidak heran
kalau kedua orang ini banyak berhubungan dengan tokoh-tokoh golongan
sesat tapi juga pejabat-pejabat kerajaan.
Kumbang Plered termasuk
salah seorang yang rapat hubungannya dengan kedua orang ini. Karena
kebetulan mereka berada di daerah itu, setelah dihajar oleh Wiro,
Kumbang Plered memerintahkan anak buahnya menemui Kuto dan Reso.
Bersama-sama mereka mendatangi rumah Memed Gendut. Dugaan mereka bahwa
pedagang kuda dan pemuda itu akan muncul bersama di sana ternyata tidak
meleset.
Melihat dua orang itu maju tanpa keluarkan senjata, Wiro
segera maklum kalau mereka tidak boleh dianggap remeh. Namun dasar
sikapnya yang suka menggoda dan mencemooh orang, pemuda ini enak saja
kembali mengejek.
"Ayo dua ekor kunyuk majulah. Kalian membela bangsa perampok dan pemeras berarti kalian sama saja isi perutnya!"
Kuto
Simpul dan Reso Bondo marah bukan main. Seumur hidup baru kali itu
keduanya menerima penghinaan demikian rupa. Didahului dengan
bentakanbentakan garang, keduanya berkelebat menyerang. Suara serangan
mereka mengeluarkan angin deras tanda keduanya memiliki tenaga luar dan
tenaga dalam yang tinggi.
Untuk menjajaki sampai di mana kekuatan
lawan, Wiro sengaja menyongsong dengan kedua lengan terpentang, berusaha
mengadu tangan. Tapi dua orang lawan berlaku cerdik. Mereka menghindari
terjadinya bentrokan pukulan, sebaliknya serentak menyebar ke kiri dan
kanan lalu menghantam dengan pukulan tangan kosong.
Wutt!
Wutt!
Dua angin pukulan menerpa dengan deras. Wiro melompat ke belakang.
Kedua tangannya diangkat ke atas. Masing-masing telapak melambai menyapunyapu.
Terdengar
suara menderu. Kuto dan Raso tersentak kaget ketika dapatkan angin
pukulan mereka bukan saja menjadi buyar, tetapi membalik ke arah mereka
sendiri!
Kedua orang itu cepat jatuhkan diri. Begitu menjejak tanah
mereka gulingkan diri sambil kaki kirimkan tendangan. Kuto menendang ke
arah kaki kanan Wiro sedang Reso Bondo menghantam ke arah dada. Mau tak
mau Wiro terpaksa cari selamat dengan jalan melompat ke atas. Dari atas
pemuda ini kembali kebutkan kedua tangannya. Tapi lawan sudah berguling
lagi menjauh. Sambil bangkit Kuto Simpul berbisik pada kawannya.
"Reso,
pemuda ini bukan cacing tanah sembarangan. Hati-hatilah"Kau betul,"
sahut Reso Bondo. "Sebaiknya kita keluarkan empat jurus perampok mabok
sekarang juga!"
Kuto Simpul mengangguk tanda setuju.
Dari mulut
kedua orang itu tiba-tiba keluar suara tawa berkakakan terus menerus.
Sambil tertawa keduanya bergerak berputar-putar mengelilingi Wiro.
Tangan
dan kaki mereka ikut bergerak tiada putus-putusnya, memukul dan
menendang, membuat Wiro terjepit di tengah-tengah dan siap jadi
bulanbulanan serangan.
"Jurus rampok mabok!" seru Kumbang Plered dalam hati dan terkejut.
"Baru beberapa gebrakan mereka sudah mengeluarkan jurus hebat itu.
Apakah pemuda keparat itu benar-benar luar biasa?"
"Hai! Kalian benar-benar seperti kunyuk mabok durian?’!" Wiro berteriak. "Menjauhilah! Badan kalian menebar bau busuk"
Buk!
Baru saja pemuda itu mengejek demikian, satu pukulan menghantam dadanya sebelah kiri.
"Kena!"
seru Kuto Simpul giring walaupun mulutnya tampak meringis karena
tangannya yang tadi berhasil menghantam dada lawan terasa sakit. Selain
menahan sakit Kuto juga menutupi rasa herannya. Pukulan kerasnya tadi
jangankan membuat lawan terjungkal, cidera pun tidak. Maka diapun
memberi isyarat pada Reso Bondo untuk melipat gandakan arus serangan dan
menambah cepat gerakan memainkan jurus-jurus perampok mabok yang kini
tinggal tiga jurus.
Memed Gendut yang melihat si pemuda terdesak
malah kena pukul menjadi semakin ketakutan. Dia lari kearah rumah untuk
menemui anak istrinya. Tapi dua orang anak buah Kumbang Plered cepat
menghadangnya dan menekankan ujung golok ke perut pedagang kuda itu.
"Lepaskan anak istriku! Jangan kalian sakiti mereka!" teriak Memed Gendut Tubuhnya terkulai lemas dan jatuh duduk di tanah.
Sementara-itu
Kuto Simpul dan Reso Bondo sudah mulai menyerbu Wiro sambil terus
berteriak-teriak. Empat jurus perampok mabok sebenarnya merupakan ilmu
silat yang bukan sembarangan. Terbukti dengan mengandalkan ilmu silat
itu Kuto dan Reso telah membuat diri mereka ditakuti di mana-mana.
Namun
malam itu keduanya berhadapan dengan seorang lawan yang tingkat
kepandaiannya jauh berada di atas mereka. Meskipun telah melipat
gandakan kecepatan serangan, tapi sampai jurus ke empat selesai,
keduanya tidak berkesempatan untuk mendapatkan pukulan ataupun tandangan
ke tubuh Wiro.
"Hai! Kenapa kalian berhenti barteriak-teriak?!" Wiro bertanya mengejek.
"Rupanya sudah sembuh dari kerasukan setan?!"
"Keparat!
V gertak Reso Bondo. Tubuhnya berkelebat. Lima jari tangan kanannya
diluruskan dan menusuk deras ke tenggorokan Wiro. Kawannya tak tinggal
diam, kirimkan tendangan ke bawah perut si pemuda.
"Hemm… Kali ini
rasakan bagianmu!" kata Kumbang Plered yang merasa yakin serangan
mendadak dan cepat dari kedua orang berpakaian merah itu pasti akan
menghantam tubuh si pemuda. Namun alangkah terkejutnya ketika melihat
apa yang kemudian terjadi.
Wiro miringkan tubuhnya ke belakang.
Tusukan lima jari tangan Reso Bondo hanya menembus udara kosong. Di saat
yang sama pemuda itu lepaskan tendangan kaki kanan, membabat kaki Kuto
Simpul yang menderu ke arah selangkangannya. Sebelum tubuhnya jatuh
punggung di tanah, Wiro masih sempat mencekal pergelangan tangan Reso
Bondo lalu menyentakkan selebat tenaga!
Gerakan yang dibuat Wiro bukan saja sangat sulit tapi sungguh luar biasa.
Tubuh
Reso Bendo laksana dilabrak topan, menderu jungkir balik di udara dan
terhempas keras di tanah tanpa dia bisa membuat gerakan mengimbangi diri
atau mampu berusaha jatuh di atas kedua kaki Mata jereng manusia ini
membeliak dan dari mulutnya .terdengar suara gerung kesakitan. Kening
dan hidungnya lecet berdarah disungkur tanah!
Dibandingkan dengan
kawannya yakni Kuto Simpel si janggut kambing, Reso Bondo masih mending.
Kalau dia cuma lecet kening dan hidung maka Kuto Simpul terdengar
menjerit ketika tulang kering kaki kanannya remuk dihantam tendangan
Wiro. Tubuhnya terjengkang dan dia tak kuasa berdiri lagi.
"Keparat!"
maki Reso Bondo seraya berdiri terhuyung-huyung. Dia berpaling pada
Kumbang Plered dan berteriak: "Kumbang! Perintahkan orang-orangmu di
dalam rumah membunuh perempuan dan anak-anak itu!"
"Jangan!" terdengar jeritan Memed Gendut. "Jangan ganggu anak istriku!"
Reso
Bondo melompat dan menjambak rambut pedagang kuda itu. Dia memandang ke
jurusan Wiro dan berteriak: "Kau dengar ratap orang ini? Jika kau tidak
mau menyerah perempuan dan anak-anak di dalam rumah akan kusuruh
bunuh!"
"Sialan! Bangsat ini benar-benar nekad!" maki Wiro dalam
hati. "Kalau kau berani melukai perempuan dan anak-anaknya itu aku
bersumpah untuk membunuhmu lebih dulu!" gertak Wiro.
"Bagusi Akan
kita lihat! Siapa yang bakal mampus duluan!" ujar Reso Bondo mendengus.
"Seret perampuan dan dua anak itu keluar rumah!"
Kumbang Plered
melangkah terpincang-pincang. Walaupun dia berjalan dalam keadaan satu
kaki cidera dan dengan bantuan tongkat kayu, tapi gerakannya masih cukup
cepat. Dia masuk ke dalam rumah. Sesaat kemudian muncul lagi diikuti
dua orang anak buahnya. Yang paling depan menyeret seorang perempuan
yang tengah hamil besar. Di sebelah belakang menyusul lelaki kedua
sambil mencekal leher pakaian dua orang anak lelaki kecil berusia dua
dan tiga tahun. Kedua anak ini menangis menjerit-jerit Kumbang Plered
cabut golok besarnya dan letakkan ujung senjata itu di atas perut istri
pedagang kuda sementara Reso Bondo angkat kedua tangannya ke atas, siap
mengemplang kepala dua orang anak Memed lenduti"Baiklah! Aku menyerah!"
kata Wiro sementara Memed Gendut meratap menyembah-nyembah di hadapan
Reso Bondo agar kedua anak dan istrinya jangan dilukaj, apalagi sampai
dibunuh. "Kalian mau tangkap aku silahkant" ujar Wiro.
Kuto Simpul yang masih terkapar di tanah segera berteriak pada anak-anak buah Kumbang Plered.
"Lekas kalian tangkap dan ikat pemuda gondrong itu!"
Tiga
orang anak buah Kumbang Plered cepat maju mendekati Wiro. Salah seorang
di antaranya membawa segulung tali. Wiro ulurkan tangan. Lelaki yang
membawa tali segera bertindak untuk mengikat. Dua kawannya mencekal
leher dan pinggang Wiro.
"Bagus … bagus! Ini yang aku mau!" kata Wiro
dalam hati. Begitu tiga orang itu benar-benar sudah sangat dekat dengan
dia, tangannya yang diulurkan dan baru saja dilingkari tali, meluncur
ke depan dan ke samping, merampas golok yang tersisip di pinggang dua
dari tiga anak buah Kumbang Plered. Gerakan pemuda ini demikian
cepatnya. Tiga anak buah rampok dan pemeras itu menjerit keras ketika
dua batang golok di tengah kiri kanan Wiro berkelebat.
Orang yang
hendak mengikatkan tali terhuyung-huyung ke belakang sambil pegangi
dadanya yang berlumuran darah disambar golok. Kawannya di sebelah kiri
jatuh tersungkur sambil meraung dan pegangi lengan kirinya yang putus.
Sementara lelaki ke tiga menjerit keras sambil pegangi mukanya yang robek mulai dari dagu sampai pipi kanan.
Selagi
Kuto Simpul, Reso Bondo dan Kumbang Plered serta yang lain-lainnya
terkesiap kaget melihat apa yang terjadi, dua golok di tangan Wiro telah
melesat di udara. ‘Satu menancap di pertengahan dada Reso Bondo. Lelaki
bermata jereng ini keluarkan jerit keras, tubuhnya sesaat terhuyung
lalu tersungkur jatuh menelungkup, membuat golok yang menancap di
dadanya menembus lebih dalam hingga tersembul di punggungnya. Nyawanya
tak tertolong lagi.
Kumbang Plered yang menyaksikan kematian Reso
Bondo dengan mata melotot sama sekali tidak menyadari kalau golok kedua
yang dilemparkan Wiro menderu ke arahnya. Dia baru tersentak kaget
sewaktu senjata itu menderu dan menancap di lambungnya. Tongkat kayu
lepas dari tangannya. Kepala rampok dan pemeras ini menjerit dua kali
lalu roboh. Sesaat tubuhnya tampak berkelojotan setelah itu tak bergerak
lagi.
Dua orang anak buah Kumbang Plered yang tadi menyeret dan
mencekal anak istri Memed Gendut putus nyali. Serta merta mereka
lepaskan perempuan dan dua anaknya itu lalu ambil langkah seribu.
Beberapa orang kawan-kawannya yang juga ikut leleh keberanian mereka
segara menghambur melarikan diri.
Memed Gendut segera merangkul istri dan kedua anaknya.
Wiro
melangkah mendekati mayat Kumbang Plered. Dari balik pakaian orang ini
dia keluarkan kantong berisi uang miliknya yang dirampas dan melemparkan
benda itu ke dekat Memed Gendut. Lalu Wiro melangkah menghampiri Kuto
Simpul yang saat itu merangkang di tanah tengah berusaha melarikan diri
dalam keadaan kaki patah.
"Janggut kambing! Kau mau lari ke mana!"
Wiro membentak dan lelaki berpakaiarr merah ini rasakan telapak kaki si
pemuda menempel di keningnya.
Tubuhnya menggigil saking ketakutan.
"Ampuni selembar jiwaku!" pintanya meratap.
Wiro
menyeringai. "Lekas kau terangkan mengapa kau bersama konco koncomu
yang sudah mampus itu ingin menangkap aku. Tadi kalian menyebut-nyebut
nama Adipati Lumajang. Ada sangkut paut apa kalian dengan Kebo
Penggiring?!"
"Aku …. kami " Kuto Simpul tampak seperti hendak berkelit.
Wiro inja kakinya yang patah hingga lelaki berjanggut kambing ini melolong setinggi langit.
"Rupanya satu kaki belum cukupi Apa ingin kupatahkan lagi kakimu satu lagi….?!" sentak Wiro.
"Jangan … Ampun! Aku akan bicara…"
"Bagus! Apa yang kau ketahui. Awas kalian berani dusta!"
"Tiga
hari lalu seorang utusan Kebo Penggiring datang menemui Kumbang Plered.
Keduanya kemudian menemui kami, maksudku aku dan Reso Bondo.
Utusan itu memberi sejumlah uang dan perhiasan dengan perintah agar kami menangkapmu hidup atau mati…."
Wiro usap-usap dagunya lalu garuk-garuk rambutnya yang gondrong basah.
"Kenapa Adipati Lumajang menginginkan diriku?" tanya Wiro.
"Demi Tuhan! Kalau itu kau tanyakan akupun tidak tahu!" jawab Reso Bondo lalu mengerang lagi kesakitan.
"Baik kalau begitu. Sekarang mana uang dan perhiasan yang kau terima dari utusan Adipati Lumajang itu…?"
"Aku tidak membawanya…"
Wiro menyeringai. "Jangan berani berdusta. Beriken uang dan perhiasan itu padaku! Atau kupatahkan kakimu satu lagi!"
"Ampun!
Jangan Ini ambillah!" Dari dalam saku baju merahnya Kuto Simpul
keluarkan sehelai selampai putih yang dipakai membungkus uang dari
perhiasan. Benda itu diserahkannya pada si pemuda.
Wiro
menimang-nimangnya sesaat lalu berkata: "Kau boleh p«rgi janggut
kambing. Tapi ingat! Jika kau berani mengganggu pedagang kuda itu dan
keluarganya, dadamu akan kutembus dengan golok seperti yang terjadi
dengan kawanmu! Kau dengar janggut kambing?’"
"Aku … aku dengar …"
jawab Kuto Simpul. Lalu dengan susah payah dia merangkang, mencoba tegak
tertatih-tatih, melangkah terpincang-pincang meninggalkan tempat itu.
‘Anak muda! Tidak kusangka, kau bukan pemuda biasa rupanya. Aku dan istriku serta anak-anak mengucapkan tarima kasih "
"Huss!"
Lskas berdiri!" sentak Wiro ketika diliatnya Memed Gendut membawa anak
istrinya dan berlutut di hadapannya. "Aku bukan dewa atau Tuhan yang
pantas kau sembah-sembah Dengar, aku akan pergi sekarang. Aku butuh
kudamu. Pilihkan aku baik-baik . . ."
“Kau boleh ambil semua kuda kuda itu!" kata Memed Gendut seraya berdiri.
Wiro tersenyum dan gelengkan kepala. Seperti katamu tadi aku hanya perlu dua ekor kuda …"
Memed
Gendut segera memilih dua akor kuda yang besar dan tegap sementara
istrinya disuruh mengambil kantong kulit berisi air. Dua ekor kuda dan
kantong air itu kemudian diserahkan pada Wiro.
Sesaat setelah naik ke
atas kuda Wiro memandang pada pedagang kuda itu lalu berkata:
"Sebaiknya kau menukar namamu. Nama Memed Gendut tidak cocok dengan
keadaan dirimu. Dan mungkin nama itu yang selalu membawa sial bagimu …"
"Lalu apa nama yang pantas bagiku?" tanya si pedagang kuda.
"Memed
Kerempeng!" jawab Wiro. Ditepuknya pinggul kuda yang ditungganginya.
Binatang ini menghambur ke depan. Kuda yang terikat di sebelah belakang
lari mengikut.
Memed Gendut dan anak isttinya tegak memperhatikan
kepergian pemuda itu yang akhirnya lenyap di kegelapan malam,"Dia
mungkin betul Mulai saat ini kuganti namaku jadi Memed Kerempeng!”,
kata si pedagang kuda pula.
"Benar
pak membenarkan istrinya. "Nama itu kurasa lebih cocok untukmu. ..
Bukan saja untuk membuang sial, tapi sekaligus guna mengingatkan kita
pada budi besar pemuda itu … ."
TERIKNYA
sinar matahari laksana membakar pedataran pasir yang seperti tak
berujung itu. Kuda yang ditunggangi Pendekar 212 Wiro Sableng tak dapat
berlari sekencang yang dikehendaki. Bukan saja panasnya udara membuat
binatang itu menjadi lebih cepat letih, tetapi lapisan pasir seolah-olah
mencengkeram kaki-kaki binatang itu. Keringat dan ludah membuih di
sudut mulutnya. Di sebelah belakang kuda cadangan berlari mengikuti kuda
induk dalam keadaan hampir tak berbeda.
Wiro mengambil kantong kulit yang berisi air dan tinggal setengahnya.
Meskipun
rasa haus membakar dada dan tenggorokannya tapi pemuda ini tak mau
meneguk air itu banyak-banyak. Sulit baginya untuk menduga sampai barapa
lama dia akan mengarungi pedataran pasir di tenggara Pegunungan Tengger
itu. Kalau persediaan air habis sedang tujuan masih jauh, bisa-bisa dia
mati kehausan di perjalanan. Wiro menyeka mulutnya dengan belakang
telapak tangan. Tangan yang masi basah iyu diusapkannya ke mulut kuda
Sejauh mata memantang hanya pedataran pasir yang terlihat. Murid Sinto
Gendeng ini mengarahkan kudanya lurus-lurus ke tenggara. Kulitnya terasa
perih oleh sengatan matahari. Sekujur tubuhnya basah oleh
keringat.Kalau saja bukan untuk memenuhi pemintaan tolong seorang
sahabatnya, tidak nanti dia mau mengadakan perjalanan yang
menyengsarakan itu. Selain itu Wiro juga sadar, keselamatan dan
kehormatan diri seorang gadis jerita harus dibelanya.
Terbayang kembali pertemuannya dengan orang tua itu sekitar dua minggu lalu di bukit Tumbalsari.
Hari
itu Wiro melintasi bukit tersebut dan seperti kebiasaannya sambil
bersiul-siul membawakan lagu tak menentu. Mendadak terdengar suara
membentak Demikian kerasnya hingga bukit itu membahana di liang telinga
si pemuda berdenyut.
"Keparat setan alas! Siapa yang bersiul-siul membuat berisik belantara mengganggu ketentraman orang!"
Wiro
terkesiap kaget, hentikan langkah dan memandang ke atas pohon besar
sebelah kanan dari arah mana tadi datangnya suara bentakan itu. Namun
tak seorang pun tampak di atas sana. Wiro tegak berdiam diri sesaat.
Kemudian kembali dia mengukirkan siulan. Pendek saja tapi keras karena
disertai pengerahan tenaga dalam. Suara siulan itu bergema beberapa
lamanya di atas bukit namun sirna tertindih oleh bentakan: "Edan!
Sombong amat tidak perdulikan peringatan orang! Anak muda tak tahu diri
kau mengandalkan apa?!"
Wiro jadi jengkel dan balas membentak.
"Bukit
dan rimba oeiantara ini bukan milikmu. Disini diam berbagai binatang,
mendekam segala setan gentayangan. Mengapa kau mengambil sikap sebagai
pemilik tunggal? Jika tak ingin terganggu mengapa berada di sini? Bicara
besar tapi tak berani unjukkan tampak!"
Terdengar suara gelak
mengekeh yang membuat liang telinga murid Sinto Gendeng
terngiang-ngiang; Suara tawa itu demikian dekatnya dan keras, namun
tetap saja Wiro tak dapat mengetahui di mana manusia yang tertawa itu
berada!
"Jika kau mau melihat tampangku, mari naik ke atas sini!"
Wiro mendongak ke atas. Saat itulah tiba-tiba terdengar suara mendesir halus.
Wiro
cepat mengambil sikap waspada karena menyangka ada senjata rahasia yang
menyerangnya. Tapi tak kelihatan apa-apa. Tahu-tahu sebentuk benang
putih yang sangat halus, berkilau kilau oleh sentuhan sinar matahari
yang menembus di sela-sela daun pepohonan, meluncur cepat ke arahnya.
Sebelum dia bisa berbuat apa-apa benang putih itu telah menjirat
lehernya. Tidak terlalu kencang namun cukup membuat nafasnya menyengal.
"Setan
alas!" maki Wiro Sableng. Secepat kilat dia pergunakan tangan kanannya
menjepit benang itu. Tapi astaga! ternyata dia tidak mampu memutus
benang yang begitu alot itu. Wiro coba mengingat-ingat pada masa
beberapa tahun yang silam. Dia seperti pernah melihat benang halus itu
sebelumnya.
Waktu itu si pemilik benang melibat pinggangnya. Namun
dengan mudah diputusnya. Apa mungkin benang dan pemiliknya saat ini
bukan orang yang dulu?
Selagi pemuda itu berpikir-pikir tiba-tiba dia merasakan satu sentakan keras.
Lehernya
yang tergulung benang halus tertarik kuat dan tubuhnya terangkat
laksana terbang ke atas sebatang pohon tinggi yang berada dua tombak di
hadapannya. Wiro merasakan batang lehernya seperti digorok oleh benang
halus itu. Secepat kilat dia gerakkan tangan kanannya ke pinggang.
Sesaat kemudian berkiblatlah sinar putih menyilaukan disertai suara
menderu seperti suara ribuan tawon mendengung.
Crass!
Benang
halus putih yang menjirat lehernya putus. Terlepas dari ikatan benang
aneh itu sebenarnya Wiro kini bisa jatuhkan diri kembali ke tanah. Tapi
sebaliknya pemuda ini malah terus melesatkan diri ke atas pohon, jungkir
balik dua kali berturut-turut, dalam kejap dia sudah menyelinap dan
tegak di salah satu cabang pohon. Hal ini dilakukannya karena dia sudah
merasa yakin, orang orang yang tadi menjiratnya sembunyi di pohon itu,
di balik kerapatan daundaun.
"Ha … ha .. .ha! Rupanya si nenek peot Sinto Gendeng itu benar-benar telah mewariskan Kapak Maut Naga Geni 212 pada muridnya!"
Kata-kata yang disertai tawa itu membuat Wiro Sableng terkesiap kaget.
Ternyata orang mengenali kapak yang masih tergenggam di tangan kanannya.
Lebih dari itu malah juga mengetahui siapa gurunya! Tanpa pikir panjang Wiro babatkan senjata mustika itu ke depan.
Kraak … kraak!
Byuuuur !
Dua
cabang besar terbabat putus. Ranting-ranting pohon berikut daundaunnya
remuk den berguguran ke bawah. Setengah dahan pohon itu kini tampak
gundul! Dan di salah satu cabang kecil kini tampak duduk seorang kakek
berjanggut putih, berpakaian selempang kain putih, tertawa mengekeh,
memandang pada Wiro sambil kedip-kedipkan mata kirinya.
Pendekar 21?
Wiro Sableng cepat putar Kapak Maut Naga Geni 212 untuk menghantam. Yang
hendak diserang tetap duduk tenang-tenang. Mendadak Wiro tahan
gerakannya.
"Aih! Benar si tua bangka dulu itu!" seru Wiro dalam
hati. Perlahan-lahan dia turunkan tangan kanannya lalu simpan senjatanya
di balik pinggang.
"Dewa Tuak!" seru Wiro kemudian Orang tua itu
kembali tertawa panjang. Janggutnya yang putih berkibarkibar di tiup
angin. Sambil mengelus janggutnya dia berkata: "Enam tahun aku
mematangkan benang suteraku. Ternyata tak mampu menahan tebasan kapakmu!
Percuma saja menghabiskan waktu. Tapi aku senang kau masih mengenali
tua renta ini. Apa kabarmu anak muda….?" Orang tua itu yang berjuluk
Dewa Tuak — merupakan tokoh silat terkemuka di delapan penjuru angin.
Usianya jauh lebih tua dari Eyang Sinto Gendang, Di pangkuannya ada
sebuah tabung bambu besar. Sebuah tabung yang sama tergantung di
belakang punggungnya. Si orang tua angkat bumbung bambu yang
dipangkuannya, mendekatkan ujungnya ke mulut. Lalu: gluk. .gluk … gluk
.. . Dia meneguk tuak harum yang ada dalam bumbung bambu itu sampai
berlelahan ke pipi dan dagunya.
"Aku baik-baik saja Dewa Tuak. Bagaimana dengan dirimu bertanya Wiro.
Dewa
Tuak turunkan bumbung bambunya. Sambil geleng-geleng kepala dan
unjukkan wajah sedih orang tua ini berkata: "Aku sedang sial! Seseorang
telah mengkhianati diriku. Eh, kau masih ingat pada murid perempuanku
bernama Anggini? Yang tempo hari ingin ku jodohkan padamu. Tapi kau
terlalu sombong dan menampiknya…"
"Maafkan aku Dewa Tuak. Aku sama sekali tidak sombong. Hanya saja untuk urusan jodoh saat itu aku belum bisa memikirkan . .."
"Lalu sekarang apakah kau sudah memikirkan?" tanya Dewa Tuak.
"Masih belum " sahut Wiro,
"Tapi kau tidak melupakan muridku itu, bukan?
"Tentu saja tidak …"
"Bagus! Hanya saja dia ditimpa malapetaka saat ini. Dan itulah sebabnya aku sengaja mencegatmu disini “
"Apa yang telah terjadi dan mengapa kau mencegatku di sini, orang tua?"
bertanya Wiro Sableng. Dia kini duduk di atas cabang di bawah cabang kecil yang diduduki Dewa Tuak.
"Beberapa
tahun sebelum aku mengambil Anggini jadi murid, aku pernah mempunyai
seorang murid lain. Seorang pemuda bernama Penging. Ternyata kemudian
kuketahui bahwa pemuda itu bukan seorang manusia baik. Hatinya sangat
culas. Selain itu dia banyak berhubungan dan bergaul dengan orangorang
jahat. Setelah kuberi nasihat beberapa kali dia selalu mengabaikan,
akhirnya aku mengambil keputusan, tidak lagi menganggap nya sebagai
murid.
Dia kusuruh meninggalkan pertapaan dan kembali ke kampungnya.
Kuketahui kemudian Penging tidak kembali ke kampung, tapi bertualang
bersama manusia-manusia jahat. Membuat keonaran di mana-mana, membunuh
dan merampok. Aku menyesal telah mengambilnya jadi murid, apalagi
mengingat hampir seluruh ilmu silatku sudah kuturunkan padanya.
Tiga bulan lalu tiba-tiba dia muncul di pertapaanku, berlutut dan menangis.
padaku diakuinya semua kesesatan, kejahatan dan segala dosa perbuatannya.
Dia
mengatakan telah insaf dan tobat. Ingin kembali ke jalan yang benar.
Ingin mengabdikan diri lagi menjadi muridku, bahkan katanya ingin jadi
pertapa…"
"Lalu, apa kau menerima permintaannya itu. Dewa Tuak?" tanya Wiro.
Si
kakek menggeleng. "Sekali aku tidak percaya pada seseorang, apapun
janjinya tak akan lagi mau kudengar. Dia kusuruh pergi. Saat itu hari
sudah malam. Karena kasihan aku hanya memperbolehkannya menginap dan
besok pagi-pagi harus sudah meninggalkan pertapaan. Pagi hari ketika aku
bangun Penging telah lenyap. Bersama lenyapnya orang itu, lenyap pula
sebuah buku milikku yang sangat berharga. Jelas manusia keparat itu
telah mencurinya.
Rupanya itulah sebenarnya kedok kedatangannya"Kalau aku boleh bertanya, buku apakah yang dicuri bekas muridmu itu?"
"Sebuah
buku tipis terdiri dari tiga halaman. Buku ini berusia lebih dari
seratus tahun. Lebih tua dari umurku dan merupakan warisan guruku.
Halaman
pertama berisi pelajaran ilmu silat kuna yang merupakan inti sari dari
ilmu silat yang kumiliki dan yang kuajarkan pada murid-muridku. Siapa
yang menguasai ilmu itu dia akan menjadi seorang luar biasa. Jika
digunakan untuk kesesatan, sulit menumpasnya.
Halaman kedua berisi
dasar-dasar penghimpunan dan pengerahan tenaga dalam. Ini juga merupakan
ilmu yang berbahaya jika dipakai untuk kejahatan.
Lalu halaman
terakhir berisi sejumlah ilmu pengobatan ampuh berdasarkan penusukan
urat-urat syaraf dan darah. Sebenarnya buku itu akan kuwariskan pada
muridku Anggini. Tapi kini segala sesuatunya sudah kapiran. Bangsat itu
keburu mencurinya!"
"Muridmu yang bernama Anggini itu sendiri sekarang berada di mana….?" tanya Wiro.
"Itulah
yang menjadi pikiranku pula," sahut Dewa Tuak seraya usap-usap janggut
putihnya. "Tiga hari setelah Penging mencuri kitab itu, Anggini muncul.
Langsung saja padanya kuberikan tugas untuk mengejar Penging.
Dibandingkan dengan lelaki itu tingkat kepandaian Anggini memang lebih tinggi.
Namun
yang membuatku kawatir ialah sampai sebegitu jauh tak ada kabar dari
Anggini. Malah kemudian dari seorang sahabat kuketahui bahwa sebenarnya
Penging telah menjadi orang besar sejak dua tahun lalu. Entah bagaimana
ceritanya
dia kini menjadi Adipati Lumajang dan namanya diganti menjadi Kebo
Penggiring. Dalam pengejarannya Anggini sampai ke Lumajang. Namun di
sana dia justru kena ditangkap oleh orang-orang Kebo Penggiring.
Kabarnya jika dalam batas waktu yang ditentukan gadis itu tidak mau
menuruti kehendak Kebo Penggiring untuk mengawininya, Anggini akan
dirusak kehormatannya lalu digantung dengan tuduhan hendak memberontak
pada Kerajaan …."
"Gila betul!" ujar Wiro sambil garuk-garuk kepala.
"Lebih dari gila!" menukas Dewa Tuak.
"Sudah begitu kejadiannya mengapa kau tidak langsung turun tangan?" bertanya Wiro.
"Itulah
memang tadinya yang aku rencanakan. Namun, ada beberapa pertimbangan.
Di usia yang sudah dekat liang kubur ini, aku tak ingin lagi mencari
keributan: Aku ingin hidup tenteram tanpa melakukan kekerasan apalagi
sampai mengalirkan darah. Semua itu akan menjadi sebab musabab dendam
kesumat. Kudengar Kebo Penggiring dekat dengan Keraton. Berarti aku akan
berhadapan dengan tokoh-tokoh tertentu yang sebenarnya kuketahui adalah
sahabatku …"
"Kalau begitu kau minta saja pertolongan mereka."
"Tidak
semudah itu. Manusia-manusia yang hidup di kota besar mengukur sesuatu
tindakan dengan nilai untung rugi. Tak perduli apakah yang minta bantuan
seorang sahabat atau bukan. Urusan macam begini belum apa-apa akan
membuatku jengkel dan marah. Mauku semua manusia macam begitu layak
dipercepat menghadap malaikat maut. Tapi ini berarti akan muncul musibah
besar "
"Lalu apa rencanamu Dewa Tuak?"
"Aku mendapat petunjuk dari seorang tua yang biasa dikenal dengan panggilan Si Segala Tahu. Kau kenal padanya….?"
"Kenal sekali!" jawab Wiro. "Aku beberapa kali mendapat petunjuknya."
"Nah,
dialah yang memberi tahu kalau saat ini kau berada di daerah ini. Dia
pula yang menasihatiku agar aku menerimamu, menuturkan apa kesulitanku
lalu meminta agar kau menolongku"Ah ….!" Wiro garuk-garuk kepala.
Dewa
Tuak menatap paras pemuda itu sesaat lalu berkata; "Jika kau tak mau
memandangku dan keberatan menolongku, kau harus sudi memandang Si Segala
Tahu.
Wiro terdiam.
"Aku menunggu jawabmu, anak muda."
"Apa yang harus kulakukan?" tanya Wiro akhirnya.
"Pergi ke Lumajang. Selamatkan Anggini. Dapatkan kitab yang dicuri. Hanya itu "
"Hanya
itu " mengulang Wiro dalam hati. Tetapi dia yakin bahwa persoalan yang
bakal dihadapinya bukan hanya itu. Bukankah Dewa Tuak tadi telah
menerangkan bahwa sebagai Adipati, Kebo Penggiring memiliki kawan-kawan
yang dekat dengan Keraton, yang berarti adalah orang-orang berkepandaian
tinggi dan sekaligus memiliki kekuasaan?!
"Aku tahu kau mampu
melakukannya Wiro. Jika aku tahu kau tak mampu, aku tak akan meminta
bantuanmu . . . Dan kalau kau memang ingin menolong, makin cepat kau
berangkat ke Lumajang, makin baik . . . ."
"Kalau seorang tua dan sahabat sepertimu berkata begitu, apa lagi yang harus kulakukan selain membantu "
"Terima kasih anak muda …" kata Dewa Tuak dan kali ini-sambil tersenyum.
"Ini
kau ambillah bumbung yang satu ini!" Kakek itu lalu mengambil bumbung
tuak yang tergantung di punggungnya lalu melemparkan benda itu kepada
Wiro.
"Terima kasih, aku tak ingin jadi mabuk!" kata Wiro. Namun
tabung bambu berisi tuak itu sudah melayang ke arahnya. Ketika dia
terpaksa menangkapnya, memandang ke atas Dewa Tuak sudah tak ada lagi di
atas cabang pohon.
Pendekar 212 kembali garuk-garuk kepala. Akhirnya
didekatkannya juga ujung bambu ke bibirnya lalu meneguk tuak kayangan
yang rasanya memang manis sedap menghangatkan.
*******************
Wiro meneguk lagi air dalam kantong kulit yang dibawanya. Memandang ke
depan dia masih belum melihat apa-apa. Seolah-olah pedataran pasir di
tenggara Pegunungan Tengger itu tidak berujung.
"Perjalanan gila!"
maki murid Sinto Gendeng dalam hati. "Kalau tidak memandang kakek tua
peminum tuak itu, dan jika tidak menimbang keselamatan muridnya tak
bakal aku melakukan ini!" Wiro meneguk sekali lagi air dalam kantong.
Ketika untuk ke sekian kalinya dia memandang ke depan, samar-samar di
kejauhan dilihatnya sebuah titik kecil, seperti terletak tepat di atas
katulistiwa. Semakin dekat dia ke arah titik itu, semakin besar
tampaknya dan dalam jarak kurang dari lima puluh tombak Wiro mengetahui
benda yang tadi terlihat berupa titik ternyata adalah sesosok tubuh
manusia yang menggeletak menelantang di atas pasir.
Orang ini masih
muda, berpakaian dan berikat kepala putih-putih. Tubuhnya tinggi dan
kekar. Namun saat itu tubuh yang kekar itu tampak tak berdaya.
Kedua matanya terpicing. Wajah dan tubuhnya hampir berselimut pasir sedang bibirnya kelihatan kering.
"Ini
bukan setan pedataran pasir!" kata Wiro membatin. "Tapi mengapa manusia
ini berada di sini seperti ini? Masih hidup atau sudah mati?" Wiro
turun dari kudanya. Dia memegang lengan pemuda yang terbujur di pasir
itu.
Terasa panas. Juga terasa denyutan nadi, tanda masih hidup.
"Sobat tak dikenal, bangunlah! Apa kau mau berkubur di tempat ini?!"
Wiro menegur dengan suara keras. Tubuh di atas pasir tidak bergerak,Wiro
ambil kantong airnya lalu sedikit demi sedikit tuangkan air ke atas
bibir yang kering. Sesaat kemudian bibir itu tampak bergerak. Wiro
tuangkan lebih banyak air. Dengan tangan kirinya dia menyeka pasir yang
menutupi wajah si pemuda. Ternyata pemuda itu berwajah tampan. Sesaat
kemudian mata yang terpejam membuka perlahan-lahan.
"Apakah kau malaikat maut yang datang menjemputku ….?" Keluar suara parau dan sangat perlahan dari mulut pemuda itu.
Kalau
di tempat lain Wiro mungkin akan tertawa bergelak mendengar katakata
itu. Dia tuangkan lebih banyak air lalu mendudukkan si pemuda di tanah
dan menahan punggungnya dengan lutut agar tidak rebah.
"Aku bukan malaikat maut. Justeru aku ingin bertanya mengapa kau enakenakan tidur di gurun pasir ini….!"
Mata si pemuda membuka lebar. Mulutnya menyeringai. "Sialan!" ujarnya.
"Siapa yang enak-enakan tidur. Terlambat kau muncul di sini aku sudah jadi mayat kering "
"Aku membawa kuda cadangan. Apakah kau bisa berdiri lalu ku bantu naik ke punggung binatang itu …."
"Aku harus melakukan apa yang kau katakan. Tapi beri lagi aku minum … ."
Setelah
minum, dengan ditolong oleh Wiro pemuda itu berdiri. Sesaat
pemandangannya berkunang-kunang, tubuhnya seperti hendak terbanting.
Wiro cepat memegang bahunya.
"Manusia-manusia keparat. . .!"
"Eh, siapa yang kau maki sobat?" tanya Wiro.
"Orang-orang
itu. Mereka membokongku. Merampas dua senjata mustika milikku.
Melarikan dan meninggalkan aku di pedataran pasir ini !
"Siapa mereka .. ;?"
"Aku
tidak kenal. Mungkin bangsa perampok. Mereka memiliki kepandaian yang
tinggi. Sobat, kau telah menolongku. Aku berterima kasih. Kau hendak
menuju ke manakah …?"
"Lumajang," sahut Wiro.
"Kalau begitu kita pergi sama-sama. Manusia-manusia keparat itu pasti juga menuju ke sana."
"Namaku Wiro Sableng. Kau siapa?" tanya Pendekar 212.
"Namamu aneh. Apakah kau benar-benar sableng hingga orang tuamu memberikan nama begitu …?
”Namaku Mahesa Kelud."
Wiro tersenyum. "Senjata apa yang mereka rampas darimu?" tanyanya kemudian.
"Sebilah Pedang Sakti dan sebilah Keris Ular Emas ”
"Hemmrn.. Nasibmu memang malang. Mudah- mudahan saja kau menemukan para pencuri itu …"
"Bukan
hanya menemukannya. Tapi juga membunuh mereka semua!" jawab Mahesa
Kelud dengan tangan terkepal, lalu naik ke atas kuda cadangan yang
dibawa Wiro. (Siapa adanya Mahesa Kelud dapat pembaca ikuti dalam serial Mahesa Kelud Pedang Sakti Keris Ular Emas)
KEDAI
Itu berbentuk pendopo terbuka dan cukup besar. Karena merupakan
satu-satunya rumah makan di daerah tenggara maka sepanjang siang tampak
selalu ramai. Apalagi terletak di Gucialit, sebuah kota kecil pusat
persimpangan beberapa jalan di selatan Tengger.
Matahari pagi baru
saja naik ketika kedua orang muda itu sampai di kedai dan langsung
masuk. Tubuh serta-pakaian mereka yang kotor penuh debu membuat pemilik
kedai segera menyongsong, bukan untuk melayani tapi untuk ajukan
pertanyaan.
"Dua pemuda asing, apakah kalian punya uang untuk makan dan minum di kedaiku ini. . . .’"
Wiro
terkesiap tapi juga mendongkol marah. Dia memang sama sekali tidak
punya uang lagi karna sudah diberikan pada Memed Gendut untuk pembeli
kuda. Sebaliknya Mahesa Kelud yang setengah mati keletihan dan kelaparan
belalakkan mata dan membentak:
"Jangankan makanan atau minuman, kepalamu akan kubeli! Jangan banyak tanyai Hidangkan makanan dan teh hangat!"
"Uangmu dulu, orang muda!" kata pemilik kedai sambil ulurkan tangan.
Wiro
tak dapat menahan kesalnya. Dia berbisik pada Mahesa Kelud; "Kau punya
uang . . . Lekas berikan padaku Mahesa Kelud yang hendak menampar
pemilik kedai itu batalkan niatnya.
Dengan rasa tidak mengerti dia
berikan dua keping uang pada Wiro. Begitu menerima uang itu Wiro secepat
kilat sumpalkan ke dalam mulut pemilik kedai.
"Ini uangnya. Kau makanlah!"
Tercekik
dan megap-megap pemilik kedai itu masuk ke dalam sementara Wiro dan
Mahesa Kelud duduk di bangku panjang. Seorang pelayan datang membawa
makanan dengan sikap ketakutan. Dua pemuda ini segera menyantap dengan
cepat. Selagi menggerogot sepotong ikan goreng, Mahesa Kelud layangkan
pandangannya berkeliling. Tiba-tiba saja pemuda ini bantingkan ikan
goreng itu ke meja.
"Sobat, ada apa? Kau ketulangan . . . Ikannya tidak enak?" tanya Wiro.
Mahesa
menggoyangkan kepalanya ke arah sudut kedai di mana tampak duduk tiga
orang lelaki berpakaian bagus yang baru saja selesai makan dan kini
tengah menghangatkan diri dengan secangkir kopi. Di bagian lain masih
terdapat kira-kira setengah lusin tamu. Tiga orang tamu berpakaian bagus
itu duduk membelakang dan agak jauh hingga tidak melihat kedatangan
Mahesa dan Wiro, juga tidak mengetahui pertengkaran dengan pemilik kedai
tadi"Siapa mereka . . .?" tanya Wiro.
"Tiga dari lima bangsat perampok yang menghadangku di pedataran pasir …"
jawab Manesa Kelud seraya berdiri.
"Cara mereka berpakaian seperti hartawan, bukan seperti rampok …."
"Hartawan atau rampok yang pasti mereka akan rasakan tanganku saat ini juga!"
Habis berkata begitu Mahesa Kelud ambil sebuah kursi di samping kanannya.
Kursi ini kemudian dilemparkannya ke arah tiga orang yang duduk membelakang.
Kursi
masih melayang setengah jalan tapi tiga orang berpakaian bagus yang
duduk membelakang serentak sudah mencelat dari tempat masing-masing,
pertanda bahwa mereka memiliki naluri kewaspadaan yang tinggi. Kursi
yang dilemparkan menghantam tiang kedai dan hancur berantakan. Tiga
orang itu cepat membalik. Jelas rasa terkejut membayang di wajah mereka
ketika melihat Mahesa Kelud melangkah mendekati. Terkejut karena
menyangka pemuda itu pasti sudah menemui kematian di panggang sinar
matahari di pedataran pasir.
Para pengunjung kedai yang lain saat itu
telah berdiri dan menyingkir menjauh, menyaksikan apa yang bakal
terjadi selanjutnya. Sementara Wiro Sableng setelah memperhatikan
sesaat, seperti tak acuh apa yang terjadi melanjutkan makannya dengan
lahap.
Lelaki berpakaian bagus di sebelah tengah usap usap dagunya.
Dia melirik pada kedua temannya lalu kembali memandang ke arah Mahesa
yang kini tegak empat langkah di hadapannya dan kawan-kawan.
Mahesa menuding tepat-tepat ke arah ketiga orang itu dengan telunjuk kiri.
"Sebelum
pembebasan kulakukan lekas kalian kembalikan pedang serta keris milikku
yang kalian rampas. Juga kuda putihku!. Tiga orang di hadapan Mahesa
sama-sama menyeringai.
"Pemuda kesasar, pagi-pagi begini kau sudah bicara ngacok tak karuan.
Kenal
pun tidak. Tampang burukmu baru kami lihat saat ini. Dan kau bicara
tentang segala macam pedang serta keris! Gila!” Yang bicara adalah
lelaki di sebelah tengah.
"Hemm . .. Kau dan teman-teman pandai bersandiwara! Bagus! Teruskansandiwara kalian sampai keliang kubur!"
Mahesa
berkelebat ke depan. Tangan dan kakinya menebar serangan. Pemuda ini
memiliki kepandaian silat dan tingkat tenaga dalam yang bukan
sembarangan: Gurunya Embah Jagatnata alias Simo Gembong pernah
menggegerkan dunia persilatan di tanah Jawa.
Di samping, itu dia
mendapat tambahan kepandaian dari seorang tokoh yang dikenal dengan nama
Karang Sewu. Ditambah pula ilmu silat langka yang didapatnya dari
seorang tokoh luar biasa bernama Suara Tanpa Rupa. Tidak mengherankan
kalau serangan yang dilancarkan Mahesa mendatangkan suara angin deras.
Tiga
lawan yang mendapat serangan berpencar. Gerakan mereka bukan saja cepat
sekali tetapi juga enteng. Ternyata tiga manusia inipun memiliki
kepandaian tak rendah. Kalau tidak tak mungkin mereka dan dua kawan
lainnya sanggup membokong Mahesa di pedataran pasir. Ketiga orang ini
sebenarnya bukanlah bangsa perampok. Mereka merupakan tokoh-tokoh silat
dari Kotaraja yang sengaja melakukan perjalanan atas permintaan
seseorang di Lumajang.
Melihat serangan pertamanya menemui kegagalan,
Mahesa Kelud kertakkan rahangnya. Sambil menendang meja makan dia
balikkan tubuh dan kini berkelebat menghantam ke arah lawan di ujung
kiri.
Sambil mengunyah nasi dalam mulutnya Wiro Sableng
geleng-gelengkan kepala melihat perkelahian itu. Diam-diam dia kagum
melihat gerakan menyerang Mahesa tadi. Namun tiga lawannya ternyata
memiliki kepandaian tidak rendah, membuat bisa-bisa pemuda itu menemukan
nasib jelek.
Mahesa menghantam dengan jotosan mengandung aji "Karang
Sewu" atau pukulan batu karang yang sanggup menghancurkan benda keras
bagaimanapun. Lawan yang diserang tampaknya sudah mencium keganasan
pukulan itu. Sambil melompat ke belakang dia bersuit keras. Suitan ini
seolaholah isyarat bagi kedua kawannya karena saat itu juga dua orang
lainnya datang menyerbu dari kiri kanan. Masih mengandalkan pukulan batu
karang di kedua tangannya.Mahesa Kelud menjotos ke kiri dan ke kanan,
sambut serangan dua lawan. Seperti kawannya tadi, dua orang ini melompat
ke belakang seraya keluarkan suara suitan nyaring. Bersamaan dengan itu
orang yang berada di sebelah depan menghantam ke depan dengan satu
pukulan tangan kosong mengandung tenaga dalam penuh!
Mahesa sengaja sambut pukulan lawan dengan maju menyongsong sambil melintangkan tangan kiri, membabat lengan orang.
"Jangan!"
teriak salah seorang ketika melihat kawannya yang memukul itu sengaja
mengadu kekuatan dengan saling bentrokkan lengan. Tapi terlambat.
Kraaaakk!
Tulang
lengan orang di depan Mahesa Kelud bukan saja patah tetapi juga hancur
hingga bagian sebelah buawah terkuntai-kuntai mengerikan. Jeritan
setinggi langit keluar dari mulutnya. Tubuhnya jatuh duduk di lantai
kedai.
Dengan tangan kirinya dia cepat-cepat menotok urat besar di
pangkal bahu hingga kebal rasa. Untuk beberapa saat lamanya dia hanya
bisa menjelepok begitu rupa.
"Pukulan karang sewu!" seru lelaki di
samping kanan Mahesa, yang membuat murid Emban Jagatnata ini terkejut
karena tak menyangka kalau orang mengenali ilmu pukulannya. Wajah dua
orang lawan tampak berubah. Setelah saling lemparkan pandangan yang
mengandung isyarat keduanya gerakkan tangan ke balik pakaian. Sesaat
kemudian mereka telah mengeluarkan senjata.
Yang di sebelah kanannya
memegang sebilah clurit besar hampir berbentuk arit Kawannya mencekal
sebatang tongkat terbuat dari kuningan yang memancarkan sinar redup tapi
angker.
Sebelumnya orang-orang itu bersama dua kawannya yang lain
yang saat itu tak kelihatan di tempat itu telah berhasil membokong
Mahesa di pedataran pasir Tengger. Hal itu sudah cukup membuktikan bahwa
mereka memiliki kepandaian tinggi.. Kini dengan senjata di tangan
tentunya dua lawan tersebut lebih banyak berbahaya. Tetapi Mahesa Kelud
percaya diri dan tidak gentar menghadapi. Bila dua lawan itu maju
menyerbu dia siap menyambut dengan jurus kematian.
Namun di saat itu justru terdengar suara membentak.
"Orang-orang
tak tahu diri! Pengecut tengik! Su- dah main keroyok sekarang pakai
senjata pula! Tangan kosong harus dihadapi dengan tangan kosong!
Itu namanya pendekar sejati!"
Dua
orang lawan Mahesa Kelud tidak sempat menyelidik siapa yang membentak
itu. Dua buah piring tiba-tiba melesat ke arah mereka. Sebelum keduanya
sempat berkelit, lengan masing-masing sudah dihantam piringpiring itu.
Piring pecah, makanan yang masih ada di atasnya berhambur mengotori
pakaian dan muka kedua orang itu. Keduanya mengeluh tinggi dan karena
tak tahan menanggung sakit terpaksa lepaskan senjata masing-masing
sementara mereka dapatkan lengan mereka berlumuran darah akibat hantaman
piring.
Mahesa Kelud melirik ke arah meja di mana Wiro Sableng duduk. "Sableng!"
katanya sambil menyeringai. "Jurus piring terbangmu boleh juga! Tapi kita kehilangan dus piring nasi dan lauknya!"
"Tak usah kawati r! Kunyuk-kunyuk itu yang akan membayar!" sahut Wiro.
"Makan
tanpa minum tentu tak sedap! Nah silahkan meneguk air .. ." Habis
berkata begitu Pendekar 212 Wiro Sableng lemparkan dua cangkir berisi
air ke arah dua pengeroyok. Meskipun mereka sempat mengelak selamatkan
kepala tapi air dalam cangkir besar itu telah lebih dulu mengguyur
kepala keduanya.
Marah besar karena merasa dipermainkan, orang di
sebelah kanan menerjang dengan satu tendarfgan ke arah perut Mahesa
sementara kawannya berkelebat cepat memungut clurit besar dan tongkat
kuningan. Namun dia hanya sempat mengambil tongkat kuningan karena
sebelum dia berhasil memegang hulu clurit, Wiro Sableng sudah melompat
ke hadapannya kirimkan tandangan ke arah pentatnya
Wutt
Tongkat
kuningan memapas deras kaki yang datang menendang. Namun hanya
menghantam tempat kosong karena di saat yang bersamaan Wiro melesat ke
atas sambil hunjamkan tumit kirinya ke arah bahu kanan lawan.
Kraak!
Tulang
bahu itu patah. Tongkat kuningan lepas dan pemiliknya jatuh di lantai
kedai, berguling-guling sambil berteriak kesakitan, lalu tergelimpang
dekat sebuah jambangan tanah liat.
Melihat kejadian ini kawannya yang menghadapi Mahesa Kelud jadi terkesiap.
Sebelumnya
dia memang telah mempreteli Mahesa secara mudah. Tapi itu dilakukan
bersama dua orang kawannya yang memiliki kepandaian sangat tinggi. Kini
tanpa dua kawan itu dan setelah menyaksikan dua kawannya yang ada di
situ cidera berat, nyalinya menjadi lumer. Tanpa pikir panjang dia
menghambur ke luar kedai.
"Ho .. .ho! Cacing tanah pengecut! Kau mau
lari ke mana!" teriak Mahesa Kelud mengejar. Tapi dua buah senjata
rahasia berbentuk lempengan besi hitam menyambutnya. Mahesa menghantam
dengan pu- kulan tangan kosong. Dua senjata rahasia mental dan menancap
di atas loteng kedai. Ketika hendak mengejar kembali, orang yang lari
telah lenyap. Di kejauhan terdengar suara kuda dipacu.
Mahesa Kelud
kepalkan tangan kanan. Dia melangkah mendekati orang yang patah tulang
bahunya. Sementara Wiro menyeret kawannya yang patah tangan lalu
melemparkannya ke dekat si patah bahu. Orang lain yang ada di kedai itu,
termasuk pemilik dan para pelayan tak ada satupun yang berani bergerak.
Mahesa Kelud injak tulang bahu yang patah hingga orang itu menjerit kesakitan.
"Sakit ?!" tanya Mahesa Kelud mengejek.
"Sakit… Sakit sekaliiiii" jawab orang itu.
"Bagus!
Aku akan mengajukan beberapa pertanyaan! Jika kau tidak mau menjawab
dengan benar, tulang bahumu satu lagi akan aku hancurkan!"
"Jangan! Jangan lakukan itu. Katakan apa yang ingin kau ketahui. .. ." ratap orang itu ketakutan.
"Pertama di mana sepasang senjata mustika milikku serta kuda putihku kalian sembunyi kan?!" tanya Mahesa.
"Kami….
kami tidak menyembunyikan. Dua orang kawan kami membawa kuda putih itu.
Juga keris dan pedang merah"Di mana mereka sekarang?"
"Turut penjelasan keduanya mereka pergi ke Lumajang," menerangkan si hancur bahu.
"Lumajang! Di mana aku harus mencari mereka di sana?" tanya Mahesa lagi.
"Keduanya pasti ke Kadipaten. Menemui Adipati Kebo Penggiring …."
"Apakah kalian berlima orang-orang Adipati itu?" Wiro yang ajukan pertanyaan.
"Bukan . . . kami bukan orang-orangnya. Kami hanya sahabat yang diminta tolong.
‘Dimintai tolong apa? Apa Adipati yang menyuruh kalian menghadang dan merampokku di pedataran pasir Tengger "
"Hal itu aku tidak jelas”
"Jangan berdusta!" ancam Mahesa Kelud lalu kaki kanannya menginjak bahu yang patah hingga orang itu menjerit setengah mati.
"Aku tidak berdusta …" teriaknya.
Lelaki yang patah tandan berusaha meyakinkan.
"Tamanku
itu tidak berdusta. Seseorang datang pada kami membawa uang dan memberi
pekerjaan. Kami harus menghadang dan membunuh seorang pemuda berambut
gondrong, berpakaian putih-putih yang akan melintas pedataran Tengger
menuju Lumajang. Kami berlima menemui kau. Ternyata bukan kau orang yang
dimaksudkan. Tapi karena melihat kau membawa kuda bagus serta membakar
senjata sakti maka kami membokongmu lalu meninggalkan di pedataran pasir
Mahesa melirik ke Whh Wiro Sableng yang berdiri sambi! garuk-garuk
kepala.
"Berarti sebenarnya akulah yang kalian tuju .. ." kata murid Sinto Gendeng itu.
"Benar.. .’.Mungkin sekali. Ciri-ciri kalian hampir sama…" jawab si patah lengan.
"Kenapa kalian diperintahkan membunuhku?"tanya Wiro.
"Itu kami tak tahu. Utusan itu tidak menjelaskan apa-apa."
"Juga tidak menjelaskan siapa yangg menyuruhnya..”
Yang ditanya tak menjawab.
Wiro angkat kaki kanannya lalu dihantamkan kebawah.
Kraak!
"Jangan … .! Jangan hancurkan kakiku ….!"jerit orang itu.
"Terserah padamu. Hancur kaki atau bicara …"
"Aku … aku akan bicara …." katanya.
"Buka mulutmu!"
Terus
terang, aku tak tahu siapa di belakang utusan itu. Namun aku menduga,
dia diutus oleh Adipati Kebo Penggiring. Hanya itu yang aku ketahui.
Hanya itu "
Wiro berpaling pada Mahesa Kelud. "Bagaimana pendapatmu?" tanyanya.
"Aku harus mengejar pencuri kuda dan senjata itu …." sahut Mahesa Kelud.
"Kalau begitu kita berangkat sekarang juga!" ujar Wiro Sableng. Lalu dia membungkuk dan menggeledah kedua orang itu.
"Apa yang kau cari?" tanya Mahesa Kelud..
‘Sepasang
senjata milikmu! Ternyata mereka memang tidak menyembunyikannya.
Orang-orang seperti mereka tidak boleh dipercaya begitu.saja. Segala
ucapannya harus diselidik "
WIRO SABLENG
dan Mahesa Kelud memacu kuda masing-masing melewati daerah
berbukit-bukit batu. Ini merupakan ujung dari pedataran pasir Tengger
setelah mereka melewati Gucialit. Sehabis bebukitan batu itu kota tujuan
mereka yakni Lumajang hanya tinggal setengah hari perjalanan. Menjelang
malam mereka berharap sudah sampai di sana dan melakukan apa yang harus
mereka kerjakan. Mahesa Kelud harus mendapatkan kambali kuda putih
serta sepasang senjata mustikanya. Sedang Pendekar 212 Wiro Sableng
sesuai dengan janjinya harus melaksanakan tugas yang dibebankan Dewa
Tuak kepadanya yaitu mendapatkan kembali kitab milik kakek itu yang
dicuri sang murid. Lalu tugas berikutnya ialah menyelamatkan Anggini —
Murid Dewa Tuak yang dulu pernah hendak dijodohkan dengannya — dari
tangan Kebo Penggiring.
Di puncak sebuah bukit batu dua pendekar itu
berhenti sejenak untuk beristirahat. Kebetulan di situ terdapat sebuah
mata air. Mereka minum sepuasnya. Begitu juga kuda tunggangan
masing-masing. Setelah mendapat kesegaran baru mereka melanjutkan
perjalanan. Jalan menurun yang ditempuh diapit di kiri kanan oleh
iamping batu setinggi hampir dua puluh tombak.
Derap kaki-kaki kuda menggema di samping bukit batu itu.
"Aku
tiba-tiba saja merasa tidak enak …." Murid Sinto Gandeng berseru pada
Mahesa Kelud. Dia memandang berkeliling lalu memperhatikan jauh-jauh ke
depan.
Mahesa Kelud ikut meneliti keadaan di sekitarnya lalu berkata:
"Tak ada yang harus dikawatirkan. Musuh-musuh berada jauh di
Kadipaten!" Dari Wiro murid Embah Jagatnata alias Simo Gembong itu telah
mendengar penuturan mengapa Wiro harus pergi ke Lumajang.
"Turut
beberapa penjelasan yang kudengar, daerah bukit batu ini sering dipakai
para perampok untuk menghadang mangsanya!" kata Wiro lagi.
"Aku telah
mengalami kejadian pahit di pedataran pasir Tenggara. Tapi sekali
ini,jika ada perampok yang berani muncul, mereka hanya minta mampus!"
menyahuti Mahesa Kelud.
Baru
saja Mahesa Kelud berkata begitu tiba-tiba Wiro melihat gerakan
mencurigakan di puncak bukit samping kiri. Hal yang sama juga tampak
pada puncak bukit batu sebelah kanan.
"Lihat!" saru Wiro.
Mendongak
ke atas Mahesa Kelud melihat ada tiga buah batu besar di puncak bukit
sebelah kanan lalu tiga lagi di sebelah kiri. Enam buah batu itu
bergerak ke tubir atas bukit lalu menggelinding ke bawah dengari suara
gemuruh mengerikan.
"Lekas berlindung!" teriak Mahesa Kelud.
Dua
pendekar itu menggebrak kuda masing-masing. Begitu kedua kuda itu
menghambur lari, Mahesa Kelud dan Wiro melompat dari punggung kuda,
selamatkan diri dengan berlindung di bawah lakukan bukit batu pada sisi
kiri kanan.
Enam buah batu besar menghempas dahsyat. Dua ekor kuda
terperangkap di celah bukit. Terdengar ringkikan kedua binatang itu di
antara gemuruh batubatu yang jatuh. Lalu sunyi. Debu dan pasir sesaat
beterbangan ke udara menutupi pemandangan. Begitu debu dan pasir luruh
ke tanah dan keadaan terang kembali Wiro dan Mahesa Kelud menyaksikan
pemandangan yang mengenaskan. Dua ekor kuda itu tergelimpang mati di
bawah himpitan enam batu besar"Bangsat rendah!" sumpah Mahesa Kelud
marah sekali. Kedua tangannya di silangkan di muka dada Mulutnya
bergetar melapatkan aji kesaktian sedang tubuhnya menggelegar menghimpun
tenaga dalam. Didahului bentakan keras Mahesa Kelud kemudian hantamkan
tangan kanannya ke atas. Kilatan api merah dan panas menderu. Tubir
bukit batu setinggi tombak di atas kiri sana tampak berpijar lalu hancur
berantakan. Pecahan batu dan bongkahan tanah beterbangan. Namun
siapapun adanya orang orang di atas sana agaknya tak satupun yang
cidera. Rupanya mereka telah lebih dulu meninggalkan tempat itu sebelum
pukulan "ilmu api" yang dilepaskan murid Emban Jagatnata menghancurkan
sebagian tubir batu.
Kagum melihat kehebatan kawannya, Pendekar 212
Wiro Sableng tak mau kalah. Tangan kanannya sampai sebatas siku mendadak
berubah menjadi putih perak. Ketika pendekar ini menghantam ke tubir
bukit batu sebelah kanan, berkiblatlah sinar putih menyilaukan disertai
deru angin panas yang dahsyat.
Puncak bukit batu di atas sana menggelegar runtuh.
"Pukulan
sinar matahari!" seru Mahesa Kelud kaget dan kagum ketika menyaksikan
pukulan itu. Dia sudah lama mendengar namun baru sekali ini menyaksikan
sendiri. Kini Mahesa Kelud sadar siapa sebenarnya kawannya yang selalu
dipanggilnya dengan sebutan Sableng ini!
Seperti pukulan sakti yang
dilepaskan Mahesa Kelud tadi, hantaman pukulan sinar matahari yang
dilepaskan Wiro pun tidak mengenai siapa-siapa di atas sana.
"Keparat-keparat itu pasti sudah melarikan diri!"ujar Mahesa Kelud jengkel.
Dia ingin sekali mengejar,tapi tanpa kuda hal itu tak mungkin dilakukan.
"Mereka
pasti orang-orang Adipati Kebo Penggiring!" kata Mahesa Kelud seraya
tepuk-tepuk pakaiannya yang penuh oleh debu. Dia memandang berkeliling
sambil garuk-garuk kepala. Lalu berkata: "Tak ada jalan lain. Kita harus
melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki!"
"Aku akan berikan pembalasan berikut bunganya pada mereka!" kata Mahesa Kelud pula sambil kepalkan tinju.
***************
EMPAT
orang penunggang kuda tampak bersiap-siap di halaman samping gedung
Kadipaten Lumajang. Salah seorang di antara mereka yang mengenakan
pakaian kebesaran Adipati bukan lain adalah Adipati Kebo Penggiring. Di
sebelahnya berturut-turut adalah dua lelaki berpakaian bagus, berusia
agak lanjut tapi memiliki tubuh sangat kekar. Salah seorang menunggang
kuda putih.
Yang seorang lagi kakek berpakaian biru yang ada parut
bekas luka pada mukanya sebelah kiri mulai dari dagu sampai ke dekat
mata.
"Kalian pasti Tunggul Soka dan Gajah Bledeg akan sampai malam ini dari Kotaraja?" Adipati Kebo Penggiring bertanya.
Tiga
orang di sampingnya sama mengangguk. Si cacat muka yang bernama Ronggo
Kemitir membuka mulut: "Tak usah kawatir. Mereka pasti datang untuk
menjemput senjata-senjata mustika itu. Sekaligus membantu kita
menghadapi pendekar suruhan Dewa Tuak itu "
Kebo Penggiring merasa
kurang enak karena dianggap seperti takut. Dia cepat berkata: "Soal
pemuda gandeng itu tak usah dikawatirkan. Hanya saja aku dengar kini dia
bergabung dengan seorang pendekar muda lainnya. Ini gara-gara dua
sahabatku ini kesalahan turun tangan di pedataran Tengger.
Betul begitu ?"
Dua
telaki bertubuh kekar berpakaian bagus terdengar batuk-batuk. Salah
seorang dari mereka yakni yang menunggang kuda putih hasil rampasan
milik Mahesa Kelud menjawab: "Dengan siapa pun pendekar gendeng itu
bergabung tak perlu ditakutkan. Kekuatan kita berempat di sini cukup
dapat diandalkan, apalagi ketambahan Tunggul Soka dan Gajah Bledeg. Jika
pemuda itu punya kepandaian tinggi, mana mungkin kami berhasil merampas
kuda dan senjatasenjata miliknya "
"Tapi menurut kawanmu yang
berhasil melarikan diri dari Gucialit, dua pendekar itu telah membikin
cacat seumur hidup dua kawan kalian. Itu sebabnya aku mengusir kawanmu
yang satu itu. Karena kuanggap tidak mampu menjalankan tugas!"
"Kepandaian
mereka bertiga memang jauh di bawah kami, Adipati. Tidak heran kalau
mereka kena dipreteli. Lihat saja nanti. Jika dua pendekar itu muncul di
sini, kami akan memberi pelajaran paling bagus padanya. Adipati tinggal
minta bagian tubuhnya yang mana. Kepala, atau hati atau jantung …"
Adipati
Kebo Penggiring berdiam diri saja mendengar kata-kata orang bernama
Tambak Ijo itu. Di saat yang sama dari halaman belakang muncul seorang
diiringi oleh dua pengawal yang menghunus tombak. Orang yang digiring
dua pengawal itu ternyata adalah seorang gadis berparas cantik,
berpakaian ungu.
Kedua tangannya terikat di sebelah depan, setiap
langkah yang dibuatnya tampak menyebabkan tubuhnya sebelah atas
erhuyung-huyung.
"Ronggo Kemitir," kata Adipati Kebo Penggiring pada kakek bermuka cacat.
"Sebelum
berangkat, coba periksa dulu totokan di tubuhnya. Aku tak ingin kita
mendapat kesulitan dalam perjalanan, walau cuma dekat saja "
Kakek
berpakaian biru melompat turun dari atas kudanya. Sesaat dia meraba-raba
punggung gadis berpakaian ungu lalu berpaling pada Kebo Pengigiring
sambil anggukkan kepala. "Totokanku masih berjalan baik. Kedua tangan
tetap lumpuh, jalan suara masih normal, sepanjang kaki masih bisa
berjalan tapi terbatas"Bagus! Kalau begitu naikkan dia ke atas kudaku.
Dudukkan di sebelah depan!" ujar Adipati Lumajang.
"Siapa sudi duduk bersamamu! Keparat!" Tiba-tiba gadis baju ungu itu memaki.
"Gadis binal! Jaga mulutmu!" mendamprat Tambak Ijo sementara Kebo Penggiring cuma menyeringai.
Dengan
satu gerakan enteng dan sangat cepat, Ronggo Kemitir menangkap pinggang
gadis berbaju ungui lalu mengangkat dan mendudukkannya di atas kuda di
sebelah depan sang Adipati. Hal ini membuat sang dara tambah marah dan
memaki tiada henti. Namun dia tak bisa berbuat lain karena tubuhnya
dikuasai satu totokan amat lihay.
"Penging murid murtad!" si gadis
membentak menyebut nama asli Kebo Penggiring. "Guru akan datang dan
membeset tubuhmu sampai lumat!"
Kebo Penggiring tertawa tawar. "Jika
tua bangka buruk itu ingin menyelamatkanmu tentu dia sudah datang
dulu-dulu! Buktinya sampai hari ini dia tidak unjukkan muka! Gurumu
hanya pandai mabuk-mabuk meneguk tuak!"
"Murid pengkhianat! Pencuri laknat!" teriak si gadis.
Kebo
Penggiring memberi isyarat. Diikuti oleh Ronggo Kemitir, Tambak Ijo dan
lelaki kekar satu lagi yang bernama Lah Bludak, mereka segera
meninggalkan halaman Kadipaten.
Saat itu malam telah turun. Udara
yang sejak sore mendung membuat malam tambah memekat gelap. Rombongan
itu bergerak ke arah timur, menuju pusat Kadipaten yakni sebuah
alun-alun. Karena letaknya tidak jauh dari gedung Kadipaten maka
sebentar saja mereka sampai di situ. Di tengah alun-alun, dalam
kegelapan malam tampak berdiri sebuah panggung setinggi satu tombak.
Di
atas panggung kayu itu dibangun dua buah tonggak besar berikut
palangnya di sebelah atas, lengkap dengan tali besar. Keseluruhannya
membentuk sebuah tiang gantungan yang mengerikan. Di bawah panggung
tampak duduk berjongkok sesosok tubuh. Di hadapannya ada sebuah
pendupaan menyala yang asapnya menebar bau menyan!
"Anggini, kau lihat tiang gantungan itu?" Kebo Penggiring bertanya pada gadis yang duduk diatas kuda di sebelah depannya.
"Mataku tidak buta!" sahut dara berbaju ungu yang ternyata adalah Anggini, murid Dewa Tuak yang ditawan oleh Kebo Penggiring.
"Bagus,
matamu tidak buta. Kuharap hatimu juga tidak terus-menerus membatu. Apa
kau tidak takut melihat tiang gantungan itu?" tanya sang Adipati lagi.
"Takut
. . . ?!" sang dara menyeringai. "Mengapa harus takut! Digantung saat
ini pun aku tidak takut! Tak perlu menunggu sampai besok pagi!"
"Kau memang gadis pemberani. Itu yang membuat aku kagum padamu,"
kata Kebo Penggiring terus-terang. "Tetapi mengapa begitu sulit bagimu menerima permintaanku … ?"
Anggini
kembali menyeringai sinis. "Setelah kau uri kitab guru, setelah kau
perlakukan aku seperti ini, setelah kau menjadi seorang pengkhianat
bejat, kau masih punya muka meminta aku jadi istrimu? Puah!" Dara itu
meludah ke tanah.
"Aku sudah bilang, buku ku akan kukembalikan pada guru, sehari setelah kita melangsungkan perkawinan”
Kembali Anggini meludah. "Penging, kau sudah terlanjur menyakiti hati guru!
Kau bahkan sudah mengotori tanganmu dengan memperlakukan aku seperti ini "
"Tujuanku
justru adalah untuk membahagiakan dirimu. Terus-terang banyak gadis
yang ingin kuperistrikan. Semua bangga menjadi istri seorang Adipati.
Tapi kau menolak "
"Segala
setan pelayangan mungkin bangga jadi istrimu Penging! Tapi aku tidak!
Justru aku akan mencincang sekujur tubuhmu pada kesempatan pertama!"
Ronggo Kemitir si kakek bermuka cacat geleng geleng kepala. "Gadis ini sulit untuk diberi pengertian Adipati " katanya.
Kebo
Penggiring masih berusaha mencari harapan. "Masakan kau lebih suka
digantung daripada jadi istriku? Padahal bukankah aku adalah kakak
seperguruanmu sendiri… ?"
"Pada hari pertama kau mengkhianati guru,
orang tua itu sudah tidak menganggap kau muridnya lagi. Apa masih pantas
aku menganggapmu sebagai kakak seperguruan? Tidak malu!"
"Kalau begitu kau benar-benar menginginkan mati Anggini. Ingin digantung dengan cap sebagai pemberontak "
"Kau
boleh membunuh aku dengan dalih apapun. Tapi kebenaran tak akan pernah
bisa dikalahkan oleh angkara murka. Kau mengkhianati guru sendiri.
Mencelakai saudara seperguruan lalu sekaligus menjilat pada Kerajaan. Kau ternyata memang manusia busuk luar biasa Penging!"
Paras
Kebo Penggiring tampak merah mendengar kata-kata itu. Diikuti oleh yang
lain-lainnya dia membawa kudanya menuju panggung penggantungan.
Setelah
berada dekat ke tempat itu Anggini segera melihat bahwa manusia yang
duduk di bawah panggung dan menghadapi pendupaan yang menebarkan bau
menyan itu ternyata adalah seorang nenek bermuka angker berpakaian serba
hitam. Dia terdengar seperti melaporkan mantera-mantera. Melihat
kedatangan rombongan Adipati, nenek ini hentikan membaca mantera,
ulurkan kedua tangan ke muka memberi hormat.
"Nenek Juminah " tegur Adipati Kebo Penggiring. "Menurut penglihatanmu apakah se- mua persiapan berjalan lancar….?"
"Tentu
saja Adipati . . . tentu saja!" jawab si enek. Suaranya kecil dan dia
bicara seperti orang tercekik. "Tetapi apakah sang calon tetap memilih
mati ketimbang dijadikan istri….?"
Sang Adipati termangu sesaat baru menjawab:
"Agaknya jalan pikirannya tak bisa dirobah. Mungkin kau hendak mengatakan sesuatu sebelum kami meninggalkan tempat ini….. ?"
Nenek itu tegak dari jongkoknya. Ternyata tubuhnya pendek dan bongkok.
Matanya
yang cekung memandang lekat lekat pada Anggini, membuat gadis ini jadi
tergetar juga hatinya. Lalu terdengar kata-kata si nenek.
"Dulu aku
punya seorang anak gadis. Wajahnya jelek sekali. Apalagi dibandingkan
denganmu nak. Tapi dia begitu bangga ketika satu hari perajurit
Kadipaten mengambilnya jadi istri. Adalah aneh kalau kau yang begini
cantik jelita lebih suka mati digantung daripada dijadikan istri oleh
Adipati Kebo Penggiring. Adipati bukan satu pangkat yang rendah dan
calon suamimu berwajah tampan gagah, apalagi masih kakak seperguruanmu.
Apakah kau tidak hendak merubah jalan pikiranmu yang keliru itu nak …. "
"Nenek
sialan I" maki Anggini dalam hati. Lalu dengan suara keras dia berkata:
"Jika menurutmu pangkat Adipati merupakan pangkat yang tinggi dan
tampang manusia ini tampang gagah, mengapa tidak kau saja yang minta
dijadikan istri?!"
Si nenek terkesiap latu gelengkan kepala sementara Kebo Penggiring tersentak dan bergetar menahan amarah.
"Gadis
bodoh . . gadis bodoh" kata si nenek berulang kali "Aku tak bisa
menolongmu. Sayang . . . sayang sekali Nenek itu kembali berjongkok dan
menyebarkan kemenyan di atas pendupaan.
"Nenek Juminah, kau telah
menjalankan pekerjaanmu dengan baik. Gadis ini memang bodoh. Memilih
mati tercemar daripada menerima permintaanku "
Adipati Kebo Penggiring membalikkan kudanya dan tinggalkan tempat itu diikuti tiga orang lainnya.
"Kau tahu apa yang bakal terjadi atas dirimu sebelum kau digantung besok pagi Anggini?" tanya Kebo Penggiring.
Murid Dewa Tuak tidak menjawab.
Kebo Penggiring membuka mulutnya kembali.
”Aku
akan memberi kesempatan sampai tengah malam nanti padamu. Jika kau
tetap pada keputusanmu, maka kehormatanmu akan kurampas. Tubuhmu
kemudian akan kuserahkan pada tiga orang dibelakangku, mungkin juga pada
dua tokoh yang akan datang dari Kotaraja. Besok pagi kau akan diseret
ke tiang gantungan. Kepalamu kemudian akan dipesiangi lalu dikirim pada
gurumu Dewa Tuak!"
Anggini tak menjawab. Mulutnya tetap terkancing. Kedua matanya dipejamkan tetapi sekujur tubuhnya menggelegak oleh hawa amarah.
Ketika rombongan sampai di tepi alun-alun, Tambak Ijo terdengar berseru:
"Awasi Ada orang datang!"
Dari
arah jalan di sebelah barat terdengar derap kaki-kaki kuda. Sesaat
kemudian dua penunggang kuda nampak muncul dari tikungan jalan yang
gelap. Keduanya segera mendatangi rombongan Adipati Kebo Penggiring.
Semua orang bersiap menjaga segala kemungkinan. Ternyata yang datang
adalah dua orang yang memang sedang ditunggu-tunggu.
"Selamat datang
di Kadipaten. Kangmas Tunggu! Soka dan kangmas Gajah Bledeg, kalian
berdua memang kami tunggu-tunggu . . . . " menyambut Kabo Penggiring.
Yang
datang ternyata adalah dua tokoh dari Kotaraja. Mereka muncul di situ
sesuai dengan permintaan sang Adipati untuk dimintai bantuan dan
sekaligus menyerahkan dua buah senjata mustika hasil rampasan.
Selanjutnya senjata-senjata itu akan diteruskan ke Keraton sebagai
persembahan.
Dua oranti yang barusan datang tertawa lebar. Gajah
Bledeg yang bertubuh tinggi ramping dan mengenakan blangkon coklat
dengan hiasan bintang besi kuning di sebelah depannya sesaat menatap
paras gadis, yang duduk di atas kuda di sebelah depan sang Adipati.
Dia
lalu bertanya: "Inikah gadis pemberontak yang besok bakal menjalani
hukuman gantung’" Ketika melihat Kebo Penggiring mengangguk dia
menggelenkkarn kepala berulang kali. "Sayang sekali tubuh begini bagus
dan wajah begini jelita harus dikubur menjadi umpan cacing tanah ….. Aku
yang tua ini tak keberatan ditemani barang sejam dua jam…… "
Semua
orang tertawa bargelak mendengar ucapan Gajah Bledeg itu. Diantara tawa
itu terdengar suara Kebo Penggiring. "Kangmas Gajah Bledeg, kau tak
perlu kawatir. Malam ini kau akan mendapat bagian khusus”
"Begitu . .
. ?" ujar Gajah Bledeg seraya basahkan bibir dengan ujung lidah dan
tenggorokan turun naik. Dia berpaling pada kawannya Tunggul Soka. "Ah,
ternyata jauh-jauh datang kamari tidak sia-sia "
Tunggul Soka
tersenyum dan palingkan kepala pada Kebo Penqgiring lalu hartanya:
"Adipati apakah kami dapat segera menerima dua senjata pusaka pedang
sakti dan keris ular emas itu. …. ‘"
"Tentu saja Kangmas Tunggul.
Sampean tak usah kawatir. Dua senjata itu kusimpan baik-baik
diKadipaten. Segera akan kusarankan pada kalian besok selesai upacara
penggantungan gembong pemberontak betina ini!"
"Hemm begitu …,.?" gumam Tunggul Soka. Sebenarnya dia ingin cepat-cepat membawa dua senjata itu kembali ke Kota raja.
"Disamping.
itu kami memerlukan bantuan kangmas berdua untuk menghadapi para
pengacau yang nanti akan segera muncul di Lumajang,"
berkata Ronggo Kemitir.
"Para pengacau ?" ujar Gajah Bledeg sambil kerenyitkan kening.
"Besarkah jumlah mereka. Terdiri dari beberapa rombongan pasukan dan siapa pemimpin mereka?" bertanya Tunggul Soka.
"Ah, mereka hanya terdiri dari dua orang. Dua pemuda ingusan" sahut Kebo Penggiring.
Mendengar hal itu Tunggul Soka dan Gajah Bledeg tertawa gelak-gelak.
"Kalau
cuma dua pemudi ingusan biarlah aku menyediakan dua helai saputangan
untuk menyeka ingus mereka!" kata Gajah Biedag pula dan kembali pecah
suara tawa bergelak ditempat itu".
Namun diam diam ada kekhawatiran
lain dalam hati Kebo Penggiring. Bukan mustahil bekas gurunya Dewa Tuak
muncul dan ikut turun tangan.
SI NENEK
Juminah yang duduk terkantuk-kantuk di bawah panggung penggantungan
tersentak kaget dan buka mata cekungnya lebar-lebar. Saat itu malam
sangat gelap dan udara dingin sekali. Di hadapannya tegak dua sosok
tubuh berpakaian putih-putih.
"Kalian siapa?!" si nenek membentak
galak dan melompat tegak. Wiro Sableng dan Mahesa Kelud sesaat saling
pandang lalu Wiro menjawab: "Kami dua setan dari neraka. Siap menjemput
korban penggantungan! Tapi kami belum kenai siapa kau, apa kerjamu malam
buta di tempat ini dan apa benar di sini hendak digantung gadis jelita
gembong pemherontak?!"
Kembali si nenek terkesiap kaget mendengar ucapan pemuda berambut gondrong yang mengaku setan dari neraka itu!
Tak
kalah gertak si nenek menjawab: "Aku dukun Juminah! Penjaga tempat
penggantungan Ini!" Si nenek masukkan sepotong kemenyan ke dalam
pedupaan. Bau kemenyan menyebar tajam. "Gadis pemberontak itu memang
hendak digantung di sini, besok pagi-pagi! Apa kalian juga bangsa
pemberontak yang minta digantung?!"
"Katakan di mana gadis pemberontak itu sekarang?!" tanya Wiro.
"Hehl Di Kadipaten tentunya! Kalian tampaknya tidak bermaksud baik.
Jangan-jangan kalian sengaja mencari penyakit. Lekas berlalu dari sini"
Mahesa Kelud melirik pada Wiro dan berkata:
"Si keriput ini galak sekali. Biar kuberi pelajaran …. "
"Jangan.
Aku punya rencana lain " kata Wiro. Lalu cepat dia menyambar pendupaan
yang berisi bara menyala. Di salah satu sudut kolong panggung dilihatnya
kaleng kecil berisi sisa minyak yang sebelumnya dipakai untuk
menyalakan pendupaan. Minyak itu diguyurkannya ke lantai panggung lalu
pada tiang-tiang sebelah atas dan bawah. Ketika bara ditebar di atas
lantai yang basah oleh: minyak, api pun segera berkobar.
"Kalian
minta mati!" teriak nenek Juminah. Tubuhnya yang bongkok melesat ke
depan. Sepuluh jari tangannya yang kotor hitam dan berkuku panjang
menyambar ke dada dan wajah Wiro Sableng. Tapi gerakannya mendadak
tertahan karena pinggangnya ditangkap Mahesa Kelud. Pemuda ini siap
pura-pura melemparkannya ke dalam kobaran api hingga nenak Juminah
menjerit ketakutan. Mahesa Kelud lagi lemparkan perempuan tua itu ke
tanah seraya berkata: "Pergi temui Adipati Kebo Penggiring! Katakah kami
dua setan dari neraka siap untuk mengambil nyawanya!"
"Gila! Kalian berdua mesti manusia-manusia gila!" teriak si nenek.
Wiro tarik kain panjang yang dikenakan si nenek hingga melorot sampai ke pinggul!
"Hai!
Kau hendak menelanjangiku! Gilai Benar-benar gila" teriak si nenek
seraya cepat menarik lepas kainnya dari pegangan Wiro lalu tanpa tunggu
lebih lama lari lintang pukang dari tempat itu. Ternyata meskipun sudah
tua dan bertubuh bungkuk larinya kencang juga.
Ketika Adipati Kebo
Penggiring dan yang lain lainnya menerima laporan si nenek di Kadipaten,
malam sudah menjelang pertengahannya.
"Mereka sudah muncul " desis
Adipati Lumajang itu dan memandang berkeliling. "Kita harus bergerak
cepat. Menyongsong mereka ke alun-alun sebelum keduanya sampai di
sini"Jangan kawatir! Kami akan membereskannya! berkata Ronggo Kemitir
seraya memberi isyarat pada Tambak Ijo dan Lah Bludak. Sebaliknya dua
orang terakhir ini menoleh ke arah Tunggul Soka dan Gajah Bledeg. Paham
akan maksud pandangan itu Gajah Bledeg segera membuka mulut.
"Kami
berdua tetap tinggal di sini. Menjaga keselamatan Adipati, mengawasi
tawanan. Sekaligus mengawal dua senjata mustika yang akan dipersembahkan
pada Sri Baginda di Kotaraja!"
Mendengar kata-kata itu Ronggo
Kemitir dan dua orang lainnya tak bisa berbuat lain. Ketiganya keluar
dari gedung Kadipaten pergi ke tempat dimana kuda mereka ditambatkan.
"Aku
bukan menuduh yang tidak-tidak, tapi tindak-tanduk dua benggolan
Keraton tadi mendatangkan kecurigaan . . .. " berkata Ronggo Kemitir, si
kakek bermuka cacat pada Tambak Ijo dan Lah Bludak.
Kedua orang yang
diajak bicara mengiyakan dengan suara perlahan karena takut terdengar
oleh Tunggul Soka dan Gajah Bledeg. Tak lama setelah ketiga orang itu
lenyap dari kejauhan Gajah Bledeg tegak dari kursi besar yang
didudukinya, sesaat melangkah mundar-mandir di hadapan Adipati Lumajang,
kemudian terdengar suaranya berkata.
"Rongga Kemitir dan dua
kawannya itu pasti mampu menghadapi dan menghajar dua pemuda yang datang
menyerbu. Jadi tak perlu aku dan Tunggul Soka berada lebih lama di sini
"
Tentu saja Kebo Penggiring terkejut mendengar ucapan itu.
"Maksud kangmas?" tanyanya.
"Maksud
kami," yang menjawab adalah Tunggul Soka, "cepat saja kau serahkan dua
senjata mustika itu dan kamr segera kembali ke Kotaraja . . . . "
"Ah,
bukan begitu perjanjian kita semula," kata Kebo Penggiring mulai tampak
kesal. "Kangmas berdua datang ke sini memang untuk menjemput dua
senjata sakti itu. Tetapi sekaligus juga menyelesaikan masalahnya sampai
tuntas.
Maksudku sampai pemuda pemilik dua senjata mustika itu
menemui ajal di depan mata hidungku. Baru aku bisa tenteram. Kini yang
datang bukan dia seorang, malah membawa kawan yang tingkat kepandaiannya
ternyata tidak rendah!"
"Kekawatiranmu terlalu dibesar-besarkan
dimas Kebo Penggiring!" kata Gajah Bledeg pula."Terus terang kami tak
punya waktu berlama-lama di Kadipaten ini"
"Jadi kangmas tidak
menginginkan kesempatan bersenang-senang dengan gadis itu sebelum
tubuhnya yang bagus digantung besok pagi …. ?" tanya Kebo Penggiring.
Dia sengaja berkata begitu untuk membujuk.
"Tentu, tentu saja aku
sangat mengingininya dimas. Tidak banyak kulihat gadis secantik dan
semulus tawanan itu. Hanya saja tugas Kerajaan saat ini lebih penting
dari tubuh molek itu. Nah lekas kau ambillah kedua senjata itu.. "
Kebo
Penggiring mengomel habis-habisan dalam hati. Namun dia tak bisa
berbuat lain. Seraya berdiri dari kursinya dia berkata: "Jika begitu
keinginan kangmas berdua baiklah. Silahkan menunggu sebentar."
Adipati
itu melangkah masuk ke ruangan dalam. Begitu masuk ke dalam secepat
kilat dia menghilang ke sebuah ruangan rahasia di mana Pedang Sakti dan
Keris Ular Mas milik Mahesa Kelud yang diterimanya dari Tambak Ijo
disembunyikannya. Kedua senjata ini disisipkannya ke pinggang lalu
bergegas meninggalkan ruangan rahasia itu. Dari sini Kebo Penggiring
memasuki sebuah lorong kecil menurun dan sampai di sebuah kamar terbuat
dari batu. Di sinilah Anggini disekap. Sang dara masih berada dalam
keadaan tertotok duduk tak bergerak di sudut kamar. Dia sudah pasrah
menerima nasib. Dinodai dan digantung. Namun gadis ini jadi heran ketika
tiba-tiba saja Kebo Penggiring memanggul tubuhnya dan membawanya keluar
dari kamar tahanan lewat sebuah jalan rahasia yang membawanya ke bagian
belakang halaman gedung Kadipaten yang gelap.
"Kau mau bawa aku ke mana?!" tanya Anggini.
"Jangan
banyak tanya!" desis Kebo Penggiring lalu cepat dia totok urat besar di
leher si gadis hingga Anggini tak mampu lagi keluarkan suara. Di bagian
belakang gedung Kadipaten tertambat dua ekor kuda besar. Kedua binatang
itu tampaknya memang sengaja disiapkan di situ. Rupanya Kebo Penggiring
cukup cerdik dan panjang akal memikirkan segala kemungkinan yang
terjadi. Cepat dia melompat ke atas punggung salah seekor kuda lalu
membedal binatang itu dalam kegelapan malam sambil memangku tubuh
Anggini di sebelah depan.
Meskipun Kebo Penggiring berhasil
mengelabui Tunggul Soka dan Gajah Bledeg, tapi tanpa disadarinya dua
sosok tubuh berpakaian putih mengejarnya dalam kegelapan. Di pinggiran
sebuah hutan kecil di sebelah tenggara Lumajang, dua pengejar ini
berhasil menyusulnya lewat jalan pintas. Salah seorang dari mereka
menarik kaki belakang kuda yang ditungganginya Hingga tubuhnya mencelat
jatuh bersama-sama tubuh Anggini.
Sekali lagi Kebo Penggiring
menunjukkan kecerdikannya. Begitu jatuh secepat kilat dia mendekap tubuh
gadis itu. Memandang ke depan dia melihat dua pemuda itu siap untuk
menyerangnya. Kebo Penggiring cabut Keris Ular Emas dari sarungnya.
Sinar kuning membersit terang di tempat gelap itu.
Ujung keris ditempelkannya ke leher Anggini lalu dia membentak lemparkan ancaman.
"Tetap di tempat kalian masing-masing! Sedikit saja kalian bergerak keris ini akan menamatkan riwayat gadis ini!"
Wiro dan Mahesa Kelud tercekat. Sesaat tak tahu mau berbuat apa selain tegak tak bergerak.
Perlahan-lahan
dia kemudian memanggul tubuh Anggini lalu menaikkan tubuh gadis itu ke
atas kuda kembali. Ujung keris kini ditujukannya ke pinggang si gadis.
Melihat ini Wiro segera bergerak untuk menghantam tapi Mahesa Kelud
cepat mencegah dengan berteriak: "Jangan! Keris itu beracun!"
Wiro
terpaksa batalkan niatnya. Jika senjata itu beracun, meskipun hanya
tergores berarti nyawa Anggini tak mungkin diselamatkan.
"Kau! Mendekat kemari!" tiba-tiba Kebo Penggiring membentak dari atas kuda.
Mahesa
Kelud yang dibentak mau tak mau —demi keselamatan gadis yang berada
dibawah ancaman Kebo Penggiring—terpaksa melangkah maju. Begitu mendekat
Adipati itu hantamkan tendangan kaki kanan ke dada sipemuda.
Tubuh Mahesa Kelud melintir lalu terlempar roboh ke tanah, tergelimpang tak berkutik lagi.
"Kini
giliranmu gondrong! Kemari!" bentak Kebo Penggiring. Tapi ketika dia
berpaling ke kiri, dia dapatkan sosok tubuh Wiro Sableng tak ada lagi
ditempat itu. "Aku tahu kau sembunyi di sekitar sini, pemuda keparat!
Jika kau berani membokong silahkan! Kau bisa membunuhku, tapi gadis ini
tak akan selamat dari kematian!" habis berkata begitu Kebo Penggiring
segera menggebrak kuda tunggangannya. Sebentar saja dia sudah lenyap
dalam kegelapan.
Anggini yang berada di sebelah depan berusaha
memutar matanya, memandang berkeliling. Tapi malam sangat gelap dan kuda
itu sudah menghambur jauh.
Benarkah pemuda itu yang dilihatnya tadi?"Pendekar 212 Wiro Sableng?
"Mungkinkah
guru meminta bantuannya . . . ?"berbisik hati sang dara. Lalu dia
terkenang pada saat pertemuan pertama kali beberapa tahun lalu dengan
Wiro. Hanya saja dia tak bisa mengenang lebih lama karena keadaan
dirinya saat itu masih berada dalam ancaman bahaya besar.
Wiro
Sableng melompat keluar dari tempat persembunyiannya di balik pohon
besar. Hatinya jengkel sekali karena tak punya kesempatan untuk
menghantam Kebo Penggiring yang ternyata berlaku sangat cerdik itu. Dia
hanya sempat sekilas melihatwajah Anggini. Tak cukup jelas untuk melihat
kecantikannya sebelum gadis itu menghilang dilarikan sang Adipati.
Cepat
Wiro dekati tubuh Mahesa Kelud yang terhampar di tanah. Ketika dia
hendak menyentuh punggung pemuda itu, tubuh Mahesa Kelud mendadak
membalik dengan tangan kanan siap menghantamkan pukulan"karang sewu"!
"Sialan! Kukira kau pingsan benaran!" ujar Wiro.
"Untung
aku membentengi badan dengan aji karang sewu. Kalau tidak tendangan
tadi sudah menghancurkan jantungku!" kata Mahesa Kelud seraya berdiri.
"Aku yakin keparat itu terluka kaki kanannya. Aku mendengar suara
keluhan pendek dari mulutnya. Mana dia .. ?!"
"Kaburi"
"Harus kita
kejar sebelum lari jauh!" kata Mahesa pula. Kedua pendekar itu segera
berkelebat ke arah lenyapnya Kebo Penggiring. Setelah tari jauh
sepeminuman teh Wiro berbisik pada Mahesa Kelud.
"Ada serombongan kunyuk yang mengejar kita di sebelah belakang "
"Betul," sahut Mahesa Kelud. "Tapi jelas mereka bukan hendak mengejar.
Mereka
menguntit. Semuanya berkuda. Tiga orang pada jalur hutan sebelah kanan,
dua lagi di sisi sebelah kiri"Bagaimana pendapatmu? Apakah kita perlu
menghantam mereka?!" tanya Mahesa. "
"Sebaiknya jangan. Jika timbul
bentrokan, Kebo Penggiring sudah kabur makin jauh.Kau tak akan sempat
menyelamatkan si gadis dan aku tak akan dapat mengambil dua senjata
mustika itu!"
"Kau betul!" ujar Wiro. "Mari percepat lari kita!"
ADIPATI KEBO PENGGIRING
tahu batul seluk-beluk jalan yang ditempuhnya. Karena itulah meskipun
malam gelap dia dapat memacu kudanya dan meninggalkan siapapun mereka
yang berusaha mengejar. Selewatnya sebuah pedataran lalang Kebo
Penggiring memasuki daerah bebukitan kecil dan sampai di sebuah lembah.
Dalam dinginnya malam dan kegelapan dia dapat melihat rumah bambu yang
menjadi tujuannya, terletak ditepi sebuah telaga kecil. Hanya saja saat
itu sang Adipati melihat ada satu keanehan.
Di atas atap bangunan
bambu tampak sebuah lampu minyak diberi berpagar kertas tipis warna
merah hingga angin tak dapat memadamkan nyala api lampu. Sebuah lampion!
"Apa
maksud Eyang memasang lampion di atas atap " membatin Kebo Penggiring.
Kudanya menderap kencang menuju rumah kecil itu dan dalam beberapa saat
saja sudah sampai di sana. Pintu depan rumah tampak terbuka.
"Eyang, saya datang ….." kata Kebo Penggiring dengan suara dikeraskan.
Dari
dalam bangunan yang gelap terdengar suara batuk-batuk lalu orang
menjawab: "Bagus …. Masuklah. Malam buta begini kau muncul tentu ada
sesuatu yang penting!"
Kabo Penggiring turun dari kudanya iaiu
menggendong Anggini dan masuk ke dalam bangunan yang gelap. Meskipun
gelap namun dia dapat melihat sosok tubuh sang guru yang duduk di sudut
kanan, berjubah hitam, lengkap dengan topi kain hitam berbentuk kepala
poncong.
"Eyang Poncong Item " sang guru ternyata bernama aneh, "apakah kau ada baik-baik saja?”
"Tentu . . . tentu”
"Suara Eyang terdengar lain dan sering-sering batuk …. "
"Ya . . Tua bangka sepertiku ini memang mudah masuk angin. Sudah tiga hari aku batuk. Itu sebabnya suaraku lain "
Kebo
Penggiring coba menembus kegelapan malam dalam bangunan bambu yang
gelap pekat itu. Dia jelas merasakan satu kelainan. Tapi tidak dapat
memastikan opa yang terasa lain itu. Otaknya bekerja keras tapidia tak
dapat memecahkan teka-teki yang ada dalam dirinya sendiri itu.
"Sosok tubuh siap yang kau gotong masuk itu, muridku?"’ Eyang Poncong Item bertanya dari sudut gelap.
"Adik seperguruanku Eyang
"Hemm
. . . bukankah dia yang kabarnya menjadi gembong pemberontak terhadap
Kerajaan? Kau menangkapnya atau bagaimana? Apakah dia sakit?"
Kebo
Penggiring tak segera menjawab. Seingatnya dia tak pernah menceritakan
pada gurunya mengenai Anggini. Rasa tak enak kini menyamaki hati Kebo
Penggiring.
Sang guru agaknya mencium keheranan muridnya maka dia
cepat batukbatuk dan berkata: "Kau tak usah heran, muridku. Walau kau
tak pernah bercerita tapi aku punya seribu telinga untuk menyirap kabar
apa yang terjadi diluaran. Kau datang di malam buta seperti
terburu-buru. Apakah ada setan yang mengejarmu?"
"Memang ada yang mengejar saya Eyang. Tapi mereka tertinggal jauh dan tak mungkin dapat mengejar sampai di sini. Hanya saja "
"Hanya saja apa Kebo Penggiring . …”
"Hemmm
" Tiba-tiba sang Adipati ingat. Eyang Poncong Item tak suka
bergelap-gelap dalam rumah bambunya itu. Lalu lampu minyak di atas atap!
Astaga. "Lampion di atas atap Eyang!" suara Kebo Penggiring menyentak keras,"Ada apa dengan lampion itu?"
"Lampu itu bisa menjadi petunjuk para pengejar! Saya harus mematikannya!"
Eyang Poncong Item tertawa.
"Kau memiliki rasa takut tak beralasan . .. "
"Eyang, suara tawamu aneh!" tukas Kebo Peng-giring. Lalu dia bergerak mencari-cari sesuatu.
"Apa yang kau cari?"
"Lampu. Saya tahu ada lampu dalam rumah ini. Dan Eyang biasa menghidupkannya "
"Lupakan
lampu itu Kebo Penggiring. Mendekatlah padaku. Ada sesuatu yang akan
kukatakan padamu"Katakan saja Eyang," jawab Adipati Lumajang itu tanpa
beringsut dari duduknya.
"Soal kitab yang kau dapat dari gurumu Desa Tuak itu … . Yang tempo hari kau berikan padaku "
"Ada apa dengan kitab itu Eyang?"
"Kitab itu lenyap dicuri orang!"
"Astaga!"
Kebo Penggiring terkejut. "Bagaimana mungkin ada yang sanggup
mencurinya dari tangan Eyang!" ujar sang Adipati hampir tak percaya.
"Itulah sebabnya kau kusuruh mendekat. Ada sesuatu yang hendak kuperlihatkan padamu!"
"Mau
tak mau Kebo Penggiring bergerak juga mendekati sang guru. Ketika jarak
mereka tinggal terpisah dua langkah, tiba-tiba Eyang Pencong Item
gerakkan tangan kanannya.
Wutt
Satu jotosan menghantam dada Kebo
Penggiring. Adipati ini terjengkang sambil menjerit. Menjerit karena
sakit dan juga kaget luar biasa. Di lain kejap dia sudah berdiri sambil
memandang tak berkedip.
"Keparat! Kau bukan Eyang Poncong Item!" bentak Kebo Penggiring kemudian.
Orang di depannya, yang juga telah berdiri keluarkan suara tertawa mengekeh.
"Murid pengkhianat! Kau licik tapi ternyata tak cukup cerdik!" Sang" Eyang"
usap mukanya dan lemparkan topi hitam berbentuk poncong di kepalanya lalu tanggalkan jubah hitam yang melekat di tubuhnya.
"Dewa
Tuak!" saru Kebo Penggiring k«tika akhirnya dia mengenali dalam gelap
siapa adanya orang tua di depannya. Bukan gurunya yang bernama Eyang
Poncong Item itu, tetapi guru pertamanya yang telah dikhianatinya yakni
Dewa Tuak. Lalu di mana Eyang Poncong Item? Apa yang sebenarnya telah
terjadi dalam rumah bambu ini?
Selagi Kebon Penggiring terkesima
begitu rupa Dewa Tuak umbar suara tawa lalu menjangkau sebuah benda
bulat panjang dari balik bahunya.
Gluk … gluk . .. gluk
Byuuur……!
Orang
tua itu menyemburkan sesuatu dari mulutnya. Di dalam gelap menebar
harumnya bau tuak. Kebo Penggiring berseru tegang, jatuhkan diri ke
lantai bambu lalu melompat ke kiri menerobos dinding.
"Murid murtad!
Kau mau lari ke mana … ?" bentak Dewa Tuak. Dia melompat ke pintu.
Sampai di luar kembali mengajar dengan semburan tuak.
Kebo Penggiring
tahu betul Kedahsyatan semburan tuak itu. Setelah menghindar selamatkan
diri dia lepaskan pukulan tangan kosong yang mengandung tenaga dalam
tinggi dua kali berturut-turut. Kekuatan pukulan itu membuat Dewa Tuak
terkejut. Buru-buru si kakek melompat ke atas dan dari atas semburkan
lagi tuaknya. Kali ini dengan kekuatan tenaga dalam penuh. Melihat
datangnya semburan tuak disertai deru laksana badai mengamuk. Kebo
Penggiring segera maklum kalau bekas gurunya itu tidak main-main dan
menginginkan kematiannyal Adipati ini gerakkan tangan kanannya ke
pinggang. Di lain kejap sinar merah berkiblat.
Terdengar suara
berdering. Semburan tuak laksana menghantam dinding bambu lalu luruh ke
tanah. Belum habis kaget Dewa Tuak tiba-tiba sinar merah menyambar ke
arah dadanya. Kakek ini cepat melompat mundur. Tak urung janggutnya kena
dipapas sebagian. Pucatlah wajah Dewa Tuak sementara Kebo Penggiring
tertawa tergelak sambil melintangkan Pedang Sakti yang memancarkan sinar
merah di depan dada.
Sepasang mata Dowa Tuak tak berkesip memandangi senjata itu"Dari mana kau dapatkan pedang mustika itu?"Si kakek bertanya.
"Kau
tanyakan saja nanti pada iblis di liang kubur! ‘ jawab Kebo Penggiring
seenaknya. Lalu dia menyerbu. Serangan-serangannya ganas sekali Meskipun
dia tidak menguasai jurus-jurus ilmu pedang Dewa yang menjadi dasar
utama pasangan senjata mustika itu, namun karena senjata tersebut memang
merupakan senjata sakti luar biasa, dimainkan dalam jurus apa pun tetap
merupakan senjata ampuh dan berbahaya. Dalam waktu singkat Dewa Tuak
telah terkurung rapat. Hanya kegesitannya saja yang membuatnya sanggup
bertahan sampai lebih dari sepuluh jurus. Memasuki jurus ke empat belas,
satu bacokan deras yang sangat sulit dielakkannya, memaksa Dewa Tuak
pergunakan bumbung bambu minuman kesayangannya untuk menjadi perisai
diri. Tak ampun tabung itu terkutung dua namun si kakek sendiri berhasil
selamakan tubuhnya. Sesaat Dewa Tuak tegak tertegun sambil urut-urut
dadanya. Agaknya sebelumnya orang tua ini telah mengalami cidera di
bagian dada itu.
"Tua bangka buruk! Sebelum tubuhmu kucincang lekas katakan di mana guruku Eyang Poncong Item!" Kebo Penggiring membentak.
Dewa Tuak tertawa mengekeh.
"Dia sedang berenang betsenang-senang di telaga!" jawabnya.
"Maksudmu?!"
bentak Kebo Penggiring. Sekilas dia melirik ke arah telaga. Dia tak
dapat melihat apa-apa. Meskipun malam mulai merayap menuju dinihari
namun keadaan masih pekat gelap.
"Aku meminta baik-baik kitab curian
yang kau berikan padanya. Tapi dia lebih suka memilih .berenang di
telaga. Hanya sayang dia berenang tidak membawa nafas lagi…. Ha .. .ha..
.hal"
"Jadi?!"
"Gurumu sudah lama jadi bangkai.
Dada Kebo
Penggiring seperti mau meledak. Pedang sakti disabatkannya ke depan.
Sinar merah berkiblat. Dia melompat untuk menyerbu kakek itu kembali.
Namun gerakannya tertahan ketika dia melihat ada beberapa sosok tubuh
berdiri dalam kegelapan. Kebo Penggiring segera mengenali orang-orang
itu. Mereka adalah Ronggo Kemitir, Tambak Ijo, Lah Bludak, dan Tunggul
Soka.
"Ah, urusan ini bisa jadi kapiran!" keluh Kebo Penggiring dalam
hati. Dia mencari-cari tapi.tak melihat Gajah Bledeg. Ketika dia
berpaling ke arah bangunan bambu dilihatnya orang itu tegak di sana dan
memanggul tubuh Anggini di bahu kirinya!
"Kangmas Gajah Bledeg! Apa yang hendak kau lakukan dengan gadis itu?!"
teriak Kebo Penggiring bertanya.
"Kebo
Penggiring," sahut Gajah Bledeg. "Sebaiknya kau selesaikan saja
urusanmu dengan gurumu. Soal gadis ini tak usah dipikirkan!"
"Kalau kau berani melakukan hal yang tidak-tidak terhadapnya akan kubunuh kau!" mengancam Kebo Penggiring.
Gajah Bledeg tertawa bergelak.
"Sebelumnya
kau hendak mencelakai gadis ini! Hendak menodai dan menggantungnya!
"Sekarang mengapa kau ingin membelanya?!" tanya Gajah Bledeg jelas
dengan maksud mengejek.
Kebo Penggiring geram bukan main. Sesaat dia memutar otak. Lalu berkata dengan suara bergetar:
"Kangmas Gajah Bledeg, jika kau tidak melepaskan gadis itu, terpaksa aku menyerangmu!"
Kembali
benggolan kerajaan itu tertawa dan menjawab menantang: "Siapa takut
padamu Kebo Penggiring! Kelak aku akan membuat laporan ke Istana Bahwa
kau berani mengangkat senjata terhadap orang Keraton. Bahwa kau ternyata
juga seorang gembong pemberontak!"
Mendengar kata-kata Gajah Bledag
itu. Kebo Penggiring tak dapat lagi menahan amarahnya. Dia segera
menyerbu. Tapi setengah jalan Dewa Tuak menghadangnya sambil tertawa
ha-ha hi-hi meskipun sambil mengurut dadanya yang sakit.
"Murid
khianat! Pelajaran yang kuterima darimu belum selesai. Mari kita
main-main lagi beberapa jurus sampai ada yang mampus di antara kita!"
Kebo Penggiring merasa heran melihat tindakan bekas gurunya ini.
Seharusnya Dewa Tuak berusaha menyelamatkan muridnya Anggini. Tapi malah justru menghadangnya.
"Tua bangka geblek!" makinya. "Rupanya kau memang sudah bosan hidup"
Kebo Penggiring melompat menerjang. Dewa
Tuak tegak tenang-tenang saja. Sesaat kemudian terdengar suaranya berseru.
"Pendekar
2121 Sudah saatnya kau keluar dari persembunyianmu. Kau datang ke mari
bukan untuk menonton tapi menolongku! Lekas selesaikan urusan dengan
manusia jelek bernama Gajah Bledeg itu "
WIRO SABLENG
yang memang sejak tadi mendekam di balik semak belukar bersama Mahesa
Kelud menunggu kesempatan baik, mendengar teriakan Dewa Tuak itu segera
melesat keluar, ke arah Gajah Bledeg.
Melihat hal ini Tunggul Soka
tak tinggal diam. Dia memberi isyarat pada Ronggo Kemitir agar membantu
Gajah Bledeg lalu pada Tambak Ijo dan Lah Bludak dia membisikkan agar
segera mengikutinya menyerbu Kebo Penggiring.
Pedang merah di tangan Adipati itu dan juga sebilah keris mustika yang pasti terselip di pinggangnya harus segera dirampas.
"Hemm … Jadi ini kacung suruhan Dewa Tuak yang diutus untuk membebaskan gadis molek ini? Apa betul namamu Sableng, cung?"
Kata-kata
itu diucapkan Gajah Bledeg pada Wiro Sableng ketika pendekar ini
melangkah mendekatinya. Diejek demikian rupa Wiro Sableng keluarkan
siulan tinggi.
"Tuan besar bernama Gajah Bledeg, turut penglihatanku kau tak pantas memakai nama Gajah. Tampangmu jauh lebih jelek dari gajah!"
Marahlah
Gajah Bledeg mendengar ejekan itu. Masih memanggul Anggini di bahu
kirinya dia hantamkan satu pukulan ke kepala Wiro Sableng. Murid Sinto
Gandeng rundukkan kepala sedikit sambil melintangkan lengan kiri
menangkis.
Dua lengan beradu keras. Terkejutlah tokoh dari Istana
itu. Lengannya seperti mengemplang tiang besi. Menyadari kalau si pemuda
memiliki kepandaian tinggi, Gajah Bledeg cepat turunkan tubuh Anggini
dan menggolekkan gadis ini di langkan rumah bambu. Lalu secepat kilat
dia menyerbu Wiro Sableng. Kedua telapak tangannya terkembang.
Serangan-serangannya kali ini bukan berupa jotosan, tetapi seperti orang
menampar. Dan setiap tamparan yang dilepaskannya mengeluarkan suara
dahsyat seperti geledek atau petir menyambar. Membuat semua orang
tergetar hatinya dan sakit telinganya. Tidak percuma dia mendapat nama
Bledeg yang berarti geledek itu!
Wiro Sableng sendiri kaget bukan
main. Seumur hidup baru sekali ini dia menghadapi lawan yang memiliki
ilmu pukulan seperti itu. Selain menimbulkan suara menggetarkan, kedua
telapak tangan Gajah Bledeg dirasakannya mengeluarkan hawa panas.
Braak!
Salah
satu tamparan Gajah Bledeg nyasar menghantam sebatang pohon dadap.
Bekas tamparan itu langsung berwarna hitam. Sesaat kemudian terdengar
suara berkereketan. Pohon besar itu patah, lalu tumbang perlahanlahan.
Kuduk
Pendekar 212 jadi mengkirik dingin. Kalau mau selamat tak ada jalan
lain. Dia juga harus keluarkan ilmu simpanannya. Apalagi saat itu
dilihatnya si muka cacat Ronggo Kemitir sudah berada di samping Gajah
Bledeg, siap mengeroyoknya. Ketika kedua orang itu menyerbunya, murid
Sinto Gandeng ini sambut dengan pukulan bentang topan melanda samudera.
Kalau
Ronggo Kemitir keluarkan pekik kaget dan dapatkan tubuhnya terpental
jauh lalu jatuh tergelimpang di tanah, maka Gajah Bledeg keluarkan
seruan tertahan. Dia kerahkan tenaga dalam, berusaha melawan tindihan
pukulan sakti lawan yang laksana dinding karang menghimpitnya. Tubuhnya
mengapung namun hanya sesaat. Ketika Wiro dorongkan telapak tangan
kanannya tak ampun tokoh silat Keraton ini terhempas ke belakang,
berguling di tanah. Meski kemudian dia cepat berdiri namun dadanya
terasa sakit dan kedua lututnya bergetar. Wiro Sableng sendiri kucurkan
keringat di keningnya tanda tenaga dalam perlawanan Gajah Bledeg sungguh
luar biasa.
Di lain bagian Mahesa Kelud telah pula melompat keluar
dari balik semak belukar di mana sebelumnya dia bersembunyi bersama Wiro
Sableng. Pendekar ini merasa kawatir melihat begitu banyak orang yang
menyerang Kebo Penggiring. Dewa Tuak menyerang Adipati itu jelas untuk
menghukum muridnya yang khianat. Sebaliknya kesempatan ini dapat
dipergunakan oleh Tunggul Soka untuk merampas senjata-senjata mustika
miliknya yang dirampok dan kini berada di tangan Kebo Penggiring. Dalam
pada itu Mahesa melihat pula dua lelaki tinggi besar berpakaian bagus
yakni Tambak’ Ijo dan Lah Bludak, yang merupakan dua dari lima orang
yang telah merampoknya di pedataran Tengger. Menimbang sampai ke situ
maka Mahesa Kelud segera berteriak.
"Dewa Tuakl Kau terluka di dalam!
Mengapa tidak selamatkan saja murid perempuanmu itu? Biarkan aku
menggasak segerombolan badut ini!"
Dewa Tuak hendak memaki marah mendengar kata-kata Mahesa Kelud itu.
Namun
disadarinya bahwa saat itu dia memang dalam keadaan terluka di dalam
yakni akibat pukulan Eyang Poncong Item, guru Kebo Penggiring. Dalam
perkelahian yang terjadi pada sore hari yang sama Dewa Tuak berhasil
menamatkan riwayat lawannya dan membuang mayat Poncong Item ke dalam
telaga. Ketika mayat itu digeledah dia telah menemukan kitab miliknya
yang dicuri muridnya itu. Kemungkinan besar Poncong Item yang telah
menghasut Kebo Penggiring untuk mencuri kitab tersebut kemudian
menyerahkannya padanya. Ternyata Poncong Item seorang kakek sakti
mandraguna yang tak mudah dikalahkan. Setelah berkelahi puluhan jurus
baru Dewa Tuak berhasil mengalahkannya. Itupun dia harus menerima satu
pukulan telak di dadanya.
Kini menyadari kebenaran maksud baik ucapan
Mahesa Kelud, Dewa Tuak cepat menghampiri tubuh Anggini yang terbaring
di langkan rumah bambu.
Sang murid ternyata tak kurang suatu apa
selain di totok pada beberapa bagian urat pentingnya hingga tak bisa
bersuara, tak dapat menggerakkan kedua tangan dan tak bisa mempergunakan
kedua kakinya. Dengan cekatan Dewa
Tuak melepaskan totokan itu satu
persatu. Begitu dirinya lepas dari totokan yang melumpuhkan Anggini
memeluk si kakek seraya mengucapkan terima kasih. Lalu tanpa dapat
dicegah gadis ini menyerbu ke tengah kalangan pertempuran. Di tangannya
terdapat sehelai selendang berwarna ungu yang pada ujungnya tertera
guratan hitam angka 212. Selendang ini merupakan senjata yang diandalkan
sang dara. Bagaimana angka 212 tergurat di ujung selendang itu ada
kisahnya tersendiri. (Baca serial Wiro Sableng Maut Bernyanyi Di Pajajaran).
Ketambahan
lagi seorang lawan yakni Anggini, membuat Kebo Penggiring semakin
terjepit. Mahesa Kelud berkelahi sambil keluarkan jurus-jurus Ilmu
Pedang Dewa Delapan Penjuru Angin. Sepasang tangan dan dua kakinya siap
dengan aji karang sewu yang dapat menghancurkan apa saja bila kena
dihantamnya. Selendang ungu di tangan Anggini menderu kian ke mari
laksana seekor ulat, membelit dan mematuk tiada henti. Tunggul Soka
serta Tambak Ijo dan Lah Bludak meskipun mengandalkan tangan kosong,
ketiganya melancarkan serangan-serangan berbahaya. Terutama hantaman
tangan dan kaki Tunggul Soka, sungguh ganas dan mengandung tenaga dalam
sangat tinggi.
Namun pedang merah sakti di tangan Kebo Penggiring
merupakan senjata ampuh luar biasa yang dapat membendung semua serangan
yang datang.
Karenanya meskipun telah terkurung rapat tetap saja para
pengeroyok tidak mampu menjatuhkan Adipati itu, apalagi merampas
pedang. Satu kali Tunggul Soka berlaku nekad. Setelah menggebrak dengan
pukulan dan tendangan berantai dia menyusup dari bawah, bergerak cepat.
Satu tangan menghantam pergalangan Kebo Penggiring, tangan lainnya
membetot hulu pedang. Tapi hampir saja pentolan istana ini celaka. Tidak
terduga pedang merah itu menyambar ganas kebawah.
Bret!
Bahu
pakaian Tunggul Soka robek besar dimakan ujung pedang. Secuil dagingnya
terkelupas. Darah mengucur. Orang ini cepat melompat mundur.
Wajahnya
tampak pucat. Sebagai tokoh silat istana Tunggul Soka memiliki
kepandaian silat dan tingkat tenaga dalam yang tinggi. Dibandingkan
dengan dirinya maka kepandaian Kebo Penggiring masih berada di bawah.
Bagaimana Adipati yang dikeroyok begitu banyak lawan masih mampu
bertahan dia membuat kejutan.
Tak ada alasan lain kecuali pedang
merah di tangan kanannya benar-benar senjata luar biasa. Maka semakin
berkobarlah hasrat Tunggul Soka untuk memiliki senjata tersebut.
Tunggul
Soka usap luka di bahunya. Darah berhenti mengucur. Ketika dia menyerbu
kembali dari samping kiri dilihatnya sesosok tubuh melesat dari
kegelapan, langsung melabrak kalangan pertempuran. Tunggul Soka tidak
kenali siapa adanya orang ini. Sebaliknya begitu Kebo Penggiring melihat
wajah penyerang baru itu, hatinya mau tak mau jadi bergetar. Orang ini
bukan lain pemuda yang telah ditendangnya dan disangkanya telah menemui
ajal, paling tidak terluka parah. Kenyataannya dia kini malah muncul
ikut menyerbu, padahal rasa sakit akibat menendang, masih terasa di kaki
kanannya.
Lain pula halnya dengan Tambak Ijo dan Lah Bludak, yang
sebelumnya bersama tiga kawannya telah menggagahi Mahesa Kelud di
pedataran pasir Tengger, kini mereka berkelahi dengan perasaan was-was
tidak enak. Cepat atau lambat pemuda itu pasti akan membalaskan
dendamnya. Karena mereka berlima sebenarnya yang menjadi pangkal sebab
semua kejadian ini.
Selintas pikiran licik muncul di benak Tambak Ijo. Maka orang tinggi kekar ini pun berteriak:
"Kangmas
Tunggul Soka, Adipati Kebo Penggiring, Lah Bludak I Mari lupakan dulu
persoalan di antara kita! Kita harus menghajar lebih dulu dua muda mudi
sesat ini!
"Kau betul dimas Tambak! Mari berebut pahala memusnahkan anjing-anjing pemberontak!" Berteriak Tunggul Soka.
"Keparat!"
maki Mahesa Kelud ketika dia menyadari bahwa yang dimaksud Tunggul Soka
dengan anjing-anjing pemberontak bukan lain adalah dirinya sendiri dan
Anggini murid Dewa Tuak. Maka Mahesa Kelud pun mendekati si gadis dan
berbisik: "Saudari kau hati-hatilah. Kita bakal dikeroyok. Berkelahi
saling punggung donganku!"
Anggini yang juga mengerti kalau keadaan
kini berubah, cepat melakukan apa yang dikatakan Mahesa lalu putar
selendang ungunya lebih sehat.
Bagi Mhesa Kelud yang paling penting
adalah memperhatikan tindak-tanduk gerakan Kebo Penggiring. Adipati ini
merupakan musuh paling berbahaya di antara empat pengeroyok karena
pedang sakti berada di tangannya. Sebaliknya dua titik lemah di pibak
lawan adalah Tambak Ijo dan Lah Bludak. Maka kembali dia berbisik pada
Anggini.
"Hati-hati dengan pedang merah. Arahkan seranganmu lebih banyak pada dua lawan berpakaian bagus!"
"Aku mngerti!" sahut sang dara. Kekuatan tenaga dalamnya kini dibagi dua.
Pertama
disalurkan keselendang ungu yang jadi senjatanya. Sebagian lagi ke
lengan kiri. Pukulan dan tendangan berkecamuk silih berganti. Sinar ungu
selendang Anggini menderu berkelebat di udara. Di antara semua itu
pedang merah mengiblatkan sinar dan suara mendengung menggidikkan.
Mahesa
Kelud kertakkan rahang. Setelah bertahan habis-habisan dengan
jurus-jurus ilmu pedang dewa pendekar ini akhirnya merasakan bahwa
kedudukannya jurus demi jurus semakin tertekan. Maka diapun mulai
siapkan pukulan sakti mandraguna yakni pukulan ilmu atau inti api. Namun
pemuda ini serta merta menyadari dalam kecamuk perkelahian yang
menggila seperti itu tak mungkin baginya mengeluarkan ilmu kesaktian
itu. Untuk melakukan pukulan inti api dia harus memejamkan mata membaca
mantera. Jika itu dilakukan sama saja dengan membiarkan lawan membantai
tubuhnyal Untuk sementara dia terpaksa menjaga diri dengan aji karang
sewu sambil menunggu kesempatan untuk mengeluarkan senjata rahasia yakni
pasir terbang berwarna merahi Kita ikuti kembali perkelahian di bagian
lain yakni antara Pendekar 212 Wiro Sableng yang dikeroyok oleh Gajah
Bledeg dan Ronggo Kemitir.
Setelah mengatur jalan nafas dan darah
masing-masing, Gajah Bledeg serta Ronggo Kemitir kembali menyerbu murid
Sinto Gendeng dari Gunung Gede itu.
Kalau Gajah Bledeg kini kerahkan
hampir seluruh tenaga dalamnya maka Ronggo Kemitir tampak membekal
sebilah, pedang berbentuk aneh. Senjata ini berbentuk lurus, memiliki
ketajaman pada kedua sisinya, lalu ujungnya yang seharusnya lancip
ternyata bercagak dua. Apa pun senjata yang di tangan Renggo Kemitir
Wiro Sableng tidak merasa takut. Pusat perhatiannya adalah sepasang
tangan Gajah Bledeg yang terus menerus mengeluarkan suara menggelegar,
menebar hawa panas. Pendekar 212 bentengi diri dengan beberapa pukulan
sakti. Dia berhasil membuat Ronggo Kemitir menjadi jeri’ dari dipaksa
menjaga jarak. Sebaliknya Gajah Bledeg berlaku lebih cerdik. Setiap
selesai melancarkan satu serangan, tubuhnya berkelebat cepat berpindah
tempat lalu kembali menyerang dari arah belakang. Dan ketika lawan
membalik untuk balas menghantam dia sudah bergerak ke jurusan lain.
Setelah
saling hantam selama lebih dari sepuluh jurus Wiro mengambil keputusan
Ronggo Kemitir harus dibereskan lebih dulu. Maka Pendekar 212 lepaskan
pukulan sinar matahari ke arah Gajeh Bledeg. Lawan satu ini terkejut
melihat sambaran sinar putih perak menyilaukan datang membabatnya
disertai deru dan hawa panas luar biasa. Ketika dia jungkir balik
selamatkan diri, di lain kejap Wiro sudah melesat ke kiri, kirimkan
pukulan telak ke sisi kanan Ronggo Kemitir yang saat itu juga ikut
terkesiap melihat kedahsyatan pukulan sinar matahari.
Kraak
Empat
tulang iga Ronggo Kemitir patah. Orang ini menjerit keras. Tubuhnya
sebelah dalam seperti ditusuk empat bilah pisau. Nafasnya mendadak
menyengat. Tubuhnya terhuyung ke belakang lalu jatuh duduk, tersandar ke
semak belukar dan tak mampu berdiri lagi.
Wiro Sableng berpaling ke arah Gajah Bledeg.
"Gajah
jelek. Sekarang tinggal kau dan aku. Jika kau ingin kembali hiduphidup
ke Kotaraja, cepat tinggalkan tempat ini. Tapi kalau kau memilih mampus
bersiaplah untuk menghadap setan akhirat!"
Meskipun hatinya tergetar
melihat apa yang di- alami Ronggo Kemitir namun ucapan Pendekar 212 Wiro
Sableng itu membakar amarahnya. Didahului bentakan keras dia tepukkan
kedua telapak tangannya satu sama lain.
Terdengar suara seperti
geledek menggelegar. Tanah bergetar. Pendengaran sakit seperti ditusuk.
Angin panas menderu menyambar tubuh Wiro Sableng.
Murid nenek sakti
dari gunung Gede ini tak tinggal diam. Begitu angin pukulan lawan
menyambar ke arahnya, kembali dia lepaskan pukulan sinar matahari.
Sekali ini dengan pengerahan lebih tiga perempat tenaga dalam.
Terjadilah hal yang membuat semua orang yang ada di tempat itu menjadi terkesima kaget, gempar lalu bergidik ngeri.
Pukulan
geledek yang diiepalkan Gajah Bledeg saling hantam di udara dengan
pukulan sinar matahari. Satu letupan dahsyat menggelegar. Cabang cabang
pohon, ranting-ranting dan dedaunan rambas hancur berentakan dan hangus
hitam. Di sebelah bawah tanah terbongkar dan beterbangan. Bangunan bambu
bekas kediaman Poncong Item roboh. Air telaga bergerlombang. Tak ada
satu orang pun yang sanggup menahan diri dari kejatuhan, termasuk Wiro
sendiri.
Semua orang-orang itu terhuyung lalu jatuh duduk di tanah
seperti dilamun gempa keras. Ketika mereka memandang ke jurusan Ronggo
Kemitir berada, pentolan Istana itu tampak terkapar beberapa tombak di
kejatuhan. Pakaiannya tak kelihatan lagi. Tubuhnya hanya tinggal tulang
belulang hangus menghitami Selagi semua orang terduduk terkesiap dan
berusaha menenangkan kejut serta kengerian yang menguasai diri
masing-masing. Tunggul Soka pergunakan kesempatan. Dengan satu gerakan
kilat dia berkelebat kearah Kebo Penggiring.
Sekali sentak saja dia berhasil merampas Pedang Dewa merah dari tangan Adipati Lumajang itu.
"Bangsat pencuri!" teriak Kebon Penggiring marah dan hendak mengejar.
"Jangan tolol!" balas berteriak Tunggul Soka.
"Apa
kau tidak melihat kedudukan kita sekarang terjepit? Kau masih memiliki
sebilah senjata sakti. Keluarkan benda itu lalu mari kita bergabung
menghadapi musuh musuh!" Sebenarnya Tunggul Soka memang ingin memiliki
senjata itu namun pada kesempatan yang tepat dengan licik dia dapat
menutupi maksud buruknya itu. Dan Kebo Penggiring pun termakan pula oleh
kata-kata Tunggul Soka tadi. Dia tampak mengeluarkan Keris Ular Emas
dari balik pinggangnya.
Sinar kekuningan memancar di udara malam menjelang dinihari yang masih gelap itu.
Mahesa
Kelud tersentak kaget. Dewa Tuak geleng-geleng kepala. Jelas tambah
sulit bagi pihaknya untuk menghadapi empat lawan yang nekad itu,
terutama mereka yang memegang senjata mustika milik Mahesa yakni Tunggul
Soka dan Kebo Penggiring.
"Anggini, kau mundurlah!" seru Dewa Tuak yang mengawatirkan keselamatan muridnya. Dia lalu melompat ke samping Mahesa Kelud.
"Tidak bisa guru!" terdengar sahutan sang dara.
"Bagaimanapun aku harus menghajar manusia khianat itu. Mengingat rencana kejinya terhadapku, aku pantas memecahkan kepalanya!"
Kebo Penggiring tertawa mengekeh. "Jika kau memang ingin kutiduri majulah ….!"
"Manusia
keji!" pekik Anggini. Selendangnya dikebutkan. Sinar ungu berkelebat
disertai deru angin deras menyambar kepala sang Adipati. Yang diserang
tusukkan keris emas di tangan kanannya ke atas.
Bret!
Ujung
selendang ungu robek. Anggini kembeli terpekik. Saat itu Dewa Tuak dan
Mahesa Kelud tak tinggal diam. Keduanya menyerbu. Di lain pihak Tunggul
Soka dan Tambak Ijo serta Lah Bludak sudah pula bergerak, menyongsong
datangnya serangan.
Di saat perkelahian kembali hendak berkecamuk
itu, tiba terdengar suara menggaung seperti ada ribuan tawon menyerbu
tempat itu. Bersamaan dengan itu sinar putih perak tampak berputar di
udara lalu membeset ke arah Kebo Penggiring.
Percaya akan keampuhan
Keris Ular Emas di tangannya sang Adipati tusukkan senjatanya ke depan.
Namun dia salah perhitungan. Sinar putih perak tadi membabat ke bawah
menghindari bentrokan lalu menelikung ke pinggang.
Kebo Penggiring
terkejut. Cepat melompat mundur. Tapi terlambat. Dia merasakan
lambungnya dingin. Rasa dingin itu hanya sekejap, berganti dengan rasa
panas. Dia memandang ke bawah lalu menjerit melihat darah menyembur
disusul usus yang membusai dari perutnya yang robek besar. Memandang ke
depan dia melihat pemuda berambut gondrong itu tegak menyeringai dengan
senjata aneh di tangani"Kapak Maut Naga Geni 212!" seru Tunggul Soka.
Kini setelah dia tahu pasti siapa adanya pemuda itu nyalinya pun
meleleh. Dia sudah menguasai pedang sakti, mengapa harus menyulitkan
diri meneruskan perkelahian? Tanpa pikir panjang lagi tokoh silat Istana
ini segera balikkan diri ambil langkah seribu.
Namun sebelum
tubuhnya lenyap di kegelapan Wiro arahkan Kapak Naga Geni 212 ke arahnya
lalu tekan alat rahasia di hulu senjata yang berbentuk kepala naga.
Terdengar suara berdesir halus ketika selusin jarum putih melesat dari
mulut kepala naga, menyerang ke arah Tunggul Soka. Mendengar datangnya
senjata rahasia ini Tunggul Soka cepat putar pedang merah di belakang
punggung. Terdengar suara berdentringan disertai memerciknya bunga-bunga
api. Selusin jarum patah dan luruh ke tanah. Wiro memaki panjang
pendek.
Dia siap melompat untuk mengejar. Namun di sebelahnya
seseorang telah berkelebat lebih dulu seraya melepas senjata rahasia
pula berupa pasir berwarna merah. Ratusan pasir itu menderu dalam
kegelapan malam, sulit dilihat dan
hampir tak mengeluarkan suara.
Tunggul
Soka tersentak kaget ketika punggungnya terasa perih. Sadar kalau ada
senjata rahasia lain menghantam tubuhnya, tokoh silat Istana ini cepat
jatuhkan diri seraya putar pedang merah di belakang punggung. Namun
terlambat. Puluhan pasir-pasir merah menembus kulitnya, menyusup ke
dalam daging, larut dalam aliran darah. Tunggul Soka bergulingan di
tanah lalu mencoba lari. Dia hanya sanggup lari sejauh tiga tombak lalu
tersungkur sambil mengerang. Sekujur tubuhnya terasa perih seperti
ditusuki ribuan jarum. Rasa nyeri itu disertai pula oleh hawa panas
bukan alang kepalang. Darah mengucur dari hidung, mata dan telinganya.
Dari mulutnya terdengar suara seperti mengorok. Dadanya naik ke atas
lalu terhempas ke bawah bersamaan dengan lepasnya nafasnya.
Mahesa
Kelud cepat menyambar Pedang Dewa yang masih berada dalam panggangan
Tunggul Soka. Kembali ke tempat pertempuran semula Mahesa dapatkan Kebo
Penggiring sudah menggeletak di tanah. Usus membusai dan kepala pecah.
Selagi sang Adipati meregang nyawa. Anggini yang tidak dapat menahan
dendam kesumatnya hantamkan selendang ungunya ke kepala Adipati itu.
Akibatnya sang Adipati yang nyawanya memang sudah tak tertolong lagi
menemui ajal dengan kepala pecah perut jebol!
Ketika Mahesa Kelud
mengambil Keris Ular Emas dari tangan mayat Kebo Penggiring dan
menggeledah pakaiannya untuk menemukan sarung Pedang Dewa serta sarung
Keris Ular Emas, Tambak Ijo dan Lah Bludak yang sudah lama mencari
kesempatan segara menyelusup di balik pepohonan dalam kegelapan. Namun
keduanya tersentak kaget ketika terdengar bentakan: "Kalian berdua mau
lari ke mana?!" Dan tahu-tahu Mahesa Kelud sudah menghadang didepan
mereka.
Tambak Ijo jatuhkan diri ke tanah. Lah Bludak mengikuti apa yang dilakukan kawannya. Keduanya meratap minta diampuni.
"Setan
tak bermalul" bentak Mahesa. "Apa yang telah kalian lakukan terhadapku
cukup layak membuat aku membunuh kalian detik ini juga"
"Jangan Raden… ampuni selembar nyawa kami. Kami hanya orang-orang suruhan belaka …." ratap Tambak Ijo.
"Begitu…?
Baiklah. Nyawamu berdua aku ampuni. Tapi jangan harap kalian bisa hidup
senang di kemudian hari!" Habis berkata begitu Mahesa tendang
selangkangan kedua orang itu hingga anggota rahasia masing-masing
hancur. Keduanya terpelanting pingsan.
Saat itu hari mulai terang-terang tanah. Dewa Tuak tegak dengan tubuh gontai. Dia memandang berkeliling.
"Beginilah
hidup dan kehidupan…" katanya perlahan. "Kejahatan, kekejaman, dendam
dan darah selalu muncul setiap saat ada yang ingin berbuat kebajikan dan
kebaikan: Mahesa Kelud, apakah kau sudah mendapatkan kedua senjata
mustikamu kembali?"
"Sudah kek. Aku sangat berterima kasih. Kalau tak
ada kau dan muridmu serta kawanku si Sableng itu niscaya aku akan
kehilangan dua senjata itu selama-lamanya …."
Wiro garuk-garuk kepala. Dewa Tuak batuk-batuk. Tenggorokannya terasa kering karena sudah beberapa lama tak meneguk tuak.
"Kalian dua pemuda tentu ingin melanjutkan perjalanan. Namun aku ada satu pertanyaan untukmu Pendekar 212 "
"Apakah itu Dewa Tuak?" tanya Wiro Sableng. Mendadak saja dia jadi gelisah.
"Utusan jodoh tempo hari. Apakah kau sudah memikirkan …?!"
Para
Wiro Sableng berubah. Pendekar ini jadi salah tingkah. Di samping Dewa
Tuak, Anggini tampak tundukkan wajahnya yang menjadi sangat merah.
Mahesa Kelud tertawa geli dan kedip-kedipkan matanya pada Wiro.
"Jika kau memang tak berkenan pada muridku, terpaksa aku mencarikan jodoh yang lain …." terdengar suara Dewa Tuak.
Wiro
Sableng angkat kepalanya, berpaling pada Mahesa Kelud. Murid Embah
Jagatnata ini mendadak saja jadi pucat mukanya. Kini Wiro yang tertawa
mengekeh.
"Kek, kau benari Sahabatku ini jauh lebih cocok untuk muridmu yang jelita itu!" kata Wiro.
"Hai!
Urusan apa ini?!" seru Mahesa Kelud. Tapi saat itu Pendekar 212 Wiro
Sableng sudah berkelebat lenyap. Ketika Mahesa Kelud hendak ikut-ikutan
pergi Dewa Tuak cepat memegang lengannya.
"Soal jodoh kita manusia
memang kadang-kadang tak bisa mengaturnya. Tapi apa salahnya kau kuajak
mampir melihat-lihat tempat kediamanku"Maaf kek, aku masih ada keperluan
lain…" kata Mahesa Kelud coba menampik tapi matanya melirik
memperhatikan Anggini sejenak.
Dewa Tuak tertawa panjang. Tangan kanannya menarik lengan Mahesa Kelud. Tangan kiri memegang lengan Anggini.
"Kek, tunggu…. Aku harus mencari kuda putihku …." ujar Mahesa pula.
"Binatang
itu, mengapa harus dikhawatirkan!" kata Dewa Tuak. Lalu kakek ini
keluarkan suitan panjang. Dari balik pepohonan tampak kepala seekor kuda
putih. Ternyata binatang itu memang Panah Putih, kuda milik Mahesa yang
pernah dirampas Tambal Ijo dan kawan-kawannya. Ketika ketiga orang itu
melangkah pergi, binatang ini mengikuti dari belakang. Sementara itu
hari semakin terang tanda pagi segera menjelang.
TAMAT